Beberapa gunung yang masih aktif di antaranya Gunung Bromo di Jawa Timur, Gunung Merapi di Yogyakarta-Jawa tengah, Gunung Papandayaan dan Gunung Tangkubanprahu di Jawa Barat serta kawah Timbang di Banjarnegara-Jawa Tengah.
Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr Surono seusai simposium Asia Pacific Risk Reduction and Resilience (APDR3) di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, Kamis (13/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, di Indonesia ada banyak gunung api aktif seperti Gunung Bromo dan Tangkubanprahu. Setelah obyek wisata tersebut dibuka, maka semakin dekat atau semakin tinggi pula risiko bencananya.
"Pengelola harus mengetahui berapa wisatawannya, berapa jumlah orang yang boleh masuk dan berapa jumlah petugas. Kalau gunung meletus atau misal terjadi kepanikan siapa yang mau ngurus. Kalau ada orang panik begitu banyak siapa yang mau ngurus," katanya.
Mbah Rono mengakui bila orang Indonesia haus akan hiburan. Gunung api boleh dikelola tapi pengelola harus tahu cara menyelamatkan diri. Semua harus disiapkan. Jangan sampai wisatawan sudah membayar namun faktor keselamatan terabaikan.
"Mbayar kok nggak slamet. Pengelola wisata harus memikirkan saat terjadi kepanikan. Dulu kan pernah di Bromo ada turis Singapura yang mati kan? Itu jangan sampai terulang lagi dan jangan nekat," tegas dia.
Selain Gunung Bromo dan Tangkubanprahu, Kawah Timbang di kawasan Dieng Banjarnegara juga masih berbahaya. Gas beracun masih bisa mengancam sewaktu-waktu. Petugas sudah memasang alat untuk memantau dan ada juga petugas yang di lapangan untuk mengawasi warga.
"Di Dieng itu dekat sekali, yang tidak ditanami hanya kawah saja," katanya.
Mbah Rono mengibaratkan seperti perang yang tidak diketahui musuhnya saat Kawah Timbang mengeluarkan gas beracun. Saat ada uap air, gas yang bercampur uap air itu terbawa kemana-mana.
"Gas itu sangat mematikan, berada sekitar setengah meter sampai 20 cm," katanya.
Saat ini, PVMBG sudah memasang alat monitoring gas di Kawah Timbang. Karena gas keluar lagi, radius 500 meter dari kawah tetap dipertahankan.
"Kita tetap pasang orang di sana. Kalau mendung jangan masuk, bahaya. Kalau siaga orang boleh masuk tapi kalau ada gempa dilarang masuk. Dieng itu seperti perang kita tidak tahu musuhnya. Beda dengan letusan gunung. Mlaku unuk-unuk (jalan pelan-pelan-red) tapi kena gas langsung mati," kata Mbah Rono memperingatkan.
(bgk/trw)











































