SBY-Howard Tidak Bicarakan Pakta Pertahanan
Rabu, 20 Okt 2004 01:05 WIB
Jakarta - Pertemuan SBY dengan PM Australia John Howard tidak membahas soal pakta pertahanan. Australia dikatakan tidak ada usulan untuk mengadakan pakta pertahanan.Wacana pakta pertahanan dicuatkan oleh Menlu Australia Alexander Downer. Katanya, Australia sedang mempertimbangkan penandatanganan satu kesepakatan keamanan baru dengan Indonesia menggantikan kerja sama antara kedua negara yang dibatalkan ketika Canberra mengirim tentara ke Timor Timur tahun 1999.Menurut Downer, adalah SBY yang menyerukan agar pakta pertahanan diperbarui. Seruan itu disampaikan SBY tahun lalu dalam kunjungannya ke Australia saat masih menjabat Menko Polkam.Setelah menjadi presiden terpilih, SBY bertemu Howard bertemu di lantai 22 Hotel Grand Hyaat Jakarta, Selasa (19/10/2004). Selain itu SBY juga bertemu Sultan Mohammad Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam, dan utusan khusus Kaisar Jepang Yasuo Fukuda.Usai tiga pertemuan itu, jubir SBY, Dino Pati Jalal menggelar jumpa pers. Menurut dia, SBY dalam pertemuannya dengan Howard banyak membicarakan mengenai ekonomi dan teroris.Soal pakta pertahanan? tanya wartawan. "Australia tidak pernah ada usulan untuk mengadakan pakta pertahanan. Tapi justru yang dibicarakan adalah bagaimana meningkatkan kerja sama keamanan antara Indonesia dengan Australia. Misalnya penanganan bom Bali dan Kedubes Australia," sanggah Dino.Sedangkan dengan utusan khusus Kaisar Jepang, menurut dia, dibahas mengenai masalah investasi. RI-Jepang sepakat hubungan bilateral akan ditingkatkan dan akan merealisasikan pembentukan emical wise men, yakni orang-orang bijak atau senior yang membahas hubungan kedua negara, bukan hanya ekonomi, tapi juga sosial budaya."Pertemuan SBY dengan ketiganya itu tidak ada pembicaraan detil, tapi lebih pada perkenalan pribadi dan celebration. Mereka punya harapan agar SBY dapat membawa Indonesia menjadi negara maju dan demokratis," kata Dino.Dalam pertemuan, papar dia, ketiga tamu asing itu mengungkapkan kegembiraannya melihat demokrasi dan Pemilu yang sukses di Indonesia. Mereka mengakui Pemilu di Indonesia sangat kompleks dan rumit, sehingga merupakan prestasi bagi Indonesia yang dicatat dunia."SBY menyatakan kegembiraannya menyambut tamu-tamu asing tersebut, dan merupakan sejarah tersendiri bagi Indonesia, karena tidak biasanya ada tamu asing dalam pelantikan presiden," ujar Dino merujuk pada pelantikan SBY sebagai presiden pada 20 Oktober 2004 yang akan dihadiri para pemimpin dan utusan pemimpin negara asing."Pidato politik SBY pertama kali dengan rakyat besok pukul 15.00 WIB disampaikan SBY di Istana," tambah Dino.
(sss/)











































