Catatan dari Den Haag

Indonesia vs Belanda, Thesa Rinus Michels Terpatahkan

- detikNews
Sabtu, 08 Jun 2013 14:59 WIB
Den Haag - Voetbal is oorlog (sepakbola adalah perang, red), demikian thesa Rinus Michels, pelatih legendaris Belanda yang dinobatkan oleh harian Inggris Times (2007) sebagai pelatih terbaik pasca Perang Dunia II. Namun hari ini thesa Michels tersebut terpatahkan.

Selama beberapa dasawarsa, thesanya Michels, yang bersama Johan Cruijff diakui sebagai pemikir totaal voetbal dan penemu taktik jebakan offside, itu menemukan kebenarannya secara empirik: pertandingan sepakbola bak perang terbuka di lapangan, diperjuangkan mati-matian, dengan strategi dan taktik rapi seperti perang sebenarnya dan dengan semangat patriotisme tinggi.

Konon, maksud awal pendapat Michels itu adalah bahwa gaya permainan keras dan agresif sangat diperlukan dan dibolehkan jika sebuah tim ingin menang, termasuk risiko kartu kuning atau kartu merah bila dipandang perlu. Topvoetbal is zoiets als oorlog. Wie te netjes blijft, is verloren. (Sepakbola tingkat tinggi itu mirip perang. Siapa terlalu sopan, akan kalah, red), demikian Michels di harian  Algemeen Dagblad 1970.

Sementara di tribun dan di luar lapangan pendukung kedua tim seringkali bentrok, kadang semangat membela timnya itu sampai meletus menjadi pertumpahan darah dan merenggut nyawa.

Misalnya bentrokan pendukung Feyenoord vs Ajax di lapangan terbuka, lebih tepatnya area mirip persawahan di dekat Beverwijk, yang selanjutnya dikenal sebagai Pertempuran Beverwijk (23 Maret 1997). Satu orang tewas di pihak pendukung Ajax dan puluhan lainnya luka berat di kedua pihak. Sebaliknya di Indonesia contohnya juga seabreg. Bahkan hanya karena beda warna kaos saja seseorang sudah diidentifikasi sebagai musuh dan terbunuh di tangan pendukung klub di Jakarta. Voetbal is oorlog.

Namun hari ini, di Ruang Nusantara KBRI Den Haag, seratusan pemuda dan pelajar Belanda bersama pemuda dan pelajar Indonesia dari Indonesia Netherlands Youth Society (INYS) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) membuktikan sebaliknya. Meskipun dukungan pada masing-masing tim negaranya begitu fanatik, yang kadang secara verbal cukup provokatif ke arah satu sama lain, namun tak sampai termanifestasi menjadi kekerasan fisik. Sebaliknya mereka berhasil membuat antithesa atas thesa Rinus Michels: voetbal is vriendschap, sepakbola adalah persahabatan.

Padahal suasana sepanjang pertandingan pertama sepanjang sejarah pasca kemerdekaan antara timnas Belanda-Indonesia, walaupun bukan untuk memperebutkan gelar atau piala, cukup emosional juga. Celetukan-celetukan dan teriakan yang bisa memerahkan telinga sesekali meledak, diiringi luapan kekesalan atau ejekan.

"Kaki keju ketemu kaki singkong, ya remuk," celetuk salah satu penonton ketika Jeremain Lens baru beberapa menit di babak pertama harus diganti oleh Arjen Robben karena cedera setelah benturan ringan dengan salah satu pemain Indonesia.

"Awas ada Belanda! Awas ada Belanda!" atau "Awas Belanda sudah dekat!," teriak penonton lainnya ketika lini pertahanan Indonesia berulang kali didekati penyerang-penyerang De Oranje.

Jika diperhatikan, idiom-diom itu berakar pada romantika revolusi kemerdakaan 1945, yang kadang masih menyisakan beban sejarah karena cerita versi masing-masing dituturkan turun-temurun, sehingga secara psikologis juga tidak selalu memudahkan bagi generasi muda kedua pihak. Tapi melalui nonton bersama itu mereka belajar mengelola ekspresi dan memahami teks-teks sensitif serta menyikapinya secara adekuat.

"Ini sungguh inisiatif yang baik sekali. Kita bisa saling lebih mengenal. Saya sendiri baru pertama kali ini menginjakkan kaki di Kedubes Indonesia," ujar salah satu mahasiswa Belanda, Douwe Borstelaar, seusai pertandingan yang berakhir dengan kekalahan Indonesia 0-3.

Ketua INYS Rennie Roos menjawab pertanyaan detikcom mengaku puas bahwa eksperimen mempertemukan generasi muda Belanda dan Indonesia melalui medium sepakbola yang digagas bersama Sekjen PPI Belanda cukup berhasil.

"Kita berhasil melalui kendala-kendala psikologis dan emosional untuk terus mendekat satu sama lain dan bersama melihat ke masa depan. Ini adalah awal yang sangat baik," cetus Rennie.

Sementara itu Sekjen PPI Belanda Ridwansyah Yusuf Achmad mengatakan bahwa medium sepakbola sengaja dipilih karena pada prinsipnya olahraga itu sifatnya netral.

"Kita lihat antusiasme kedua pihak yang sedemikian tinggi dengan ekspresi nasionalisme masing-masing ternyata bisa bertemu secara mulus. Ini kita harapkan bisa menjadi pijakan ke depan untuk terus saling memahami dan menjalin kerjasama," demikian Yusuf.

Duel Indonesia-Belanda tersebut disiarkan langsung oleh stasiun SBS tepat pukul 15.30 Waktu Eropa Tengah, didahului preview 30 menit sebelumnya dengan narasumber Ronald de Boer (Ajax, Barcelona, Rangers). Duta Besar RI Retno Marsudi langsung bergabung menonton bersama pelajar Belanda dan Indonesia seusai jam kantor. Sedangkan Atase Pendidikan Bambang Hari Wibisono hadir lebih awal di tengah-tengah para pelajar.

Di layar lebar siaran langsung itu juga jelas terlihat suasana persahabatan memancar dari Gelora Bung Karno. Tidak ada konflik pemain di lapangan. Timnas Garuda tak bisa memakai kostum tuan rumah merah-putih kebanggaan juga oke. Belanda menyarangkan gol, penonton Indonesia juga bersorak-sorai. Luna Maya muncul tertangkap kamera juga heboh ramai-ramai. Pendukung Belanda, bule-bule londo memekikkan yel-yel "Holland", kubu pendukung Indonesia juga menjawab dengan pekikan ramah sepadan.

Sepakbola bukan perang. Sepakbola adalah persahabatan. Ia bisa menjadi jembatan untuk saling menghubungkan, mendekatkan. Camkan.


(es/es)