Bila Gagal dalam 100 Hari
SBY Harus Reshuffle Kabinet
Selasa, 19 Okt 2004 14:17 WIB
Jakarta - Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Teten Masduki berpendapat, jika dalam 100 hari pemerintahannya ada menteri yang ditolak masyarakat karena konditenya buruk, maka presiden terpilih SBY mesti melakukan reshuffle kabinet."Dalam 100 hari, SBY harus melakukan reshuffle kalau ternyata ada menteri yang ditolak masyarakat karena kotor, korupsi, kinerjanya buruk, terutama pada menko dan menkeu," kata Teten dalam diskusi di Hotel Bumi Asih, Jl.Puputan Raya Renon, Denpasar, Selasa (18/10/2004).Menurutnya, jika dalam 100 hari SBY tidak bisa membuktikan janji pada masyarakat dalam bidang ekonomi dan pemberantasan korupsi, maka dalam waktu singkat legitimasi pemerintah di masyarakat menjadi lemah dan dukungan politik di DPR juga akan lemah.Lebih lanjut Teten menyatakan, indikator ketidakberhasilan kabinet SBY tergantung dari opini masyarakat Indonesia dan internasional. "SBY masih punya think tank LSI (Lembaga Survei Indonesia) untuk merecheck kebenaran opini masyarakat," ungkap Teten.Teten juga meminta masyarakat tidak terjebak dengan adanya pembuktian hukum terhadap menteri yang terlibat korupsi. "SBY pernah menyatakan, harus ada bukti hukum (bahwa menteri yang dipilihnya nakal). Bagi saya ini sangat naif. Seolah-olah menganggap hukum kita sudah berjalan," tandas Teten.Di mata Teten, orang-orang yang masuk dalam kabinet SBY cukup kontradiktif karena ada yang pro dan kontra IMF. Teten mengaku mendapat bocoran bahwa nantinya tim ekonomi SBY adalah Aburizal Bakrie sebagai Menko Perekonomian, Rizal Ramli sebagai Menkeu, dan Sri Mulyani sebagai Kepala Bappenas. "Ini kontradiktif. Rizal anti IMF, Sri Mulyani pro. Ini agak aneh," tandas Teten.Teten tidak optimis kabinet SBY akan membawa perubahan. "Tapi lebih baik daripada yang lalu," demikian Teten.
(nrl/)











































