Kelompok pertama di Sidoarjo disebut terkait jaringan narkotika dari India. Awalnya penyidik mendapati sebuah paket yang datang dari India berupa suku cadang cakram yang mencurigakan.
"Setelah kita X-Ray, kita dapati sabu di dalamnya," ujar Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Benny Mamoto di kantor BNN, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Senin (3/6/2013).
Paket tersebut ditujukan kepada seseorang bernama Budi Hermawan. Seseorang wanita berinisal I hendak mengambil paket itu dan mengaku diperintahkan suaminya berinisal P untuk menjemput paket tersebut di tempat pengiriman barang.
"Selanjutnya P diamankan. Kemudian P mengaku menerima perintah atas nama JA," ucap Benny.
Total paket tersebut 461.4 gram sabu yang terdapat dalam spare part kendaraan itu. Dari pengembangan, JA ditangkap dan di mobilnya ditemukan paket sabu seberat 97.5 gram sabu.
Pengungkapan kedua terjadi di Medan, otaknya adalah mantan petinggi media dan juga pengacara berinisal YHS. YHS ditangkap setelah petugas menangkap S yang membawa sabu seberat 20 gram. YHS ditangkap di sebuah ruko miliknya.
"Dari hasil penggeledahan ditemukan 6.527 gram sabu yang didapatkan dari Malaysia, 47 burit ekstasi, dan serbuk ekstasi seberat 169,5 gram," jelasnya.
Tidak hanya itu, uang tunai sekitar Rp 235 juga turut diamankan yang diduga merupakan hasil penjualan narkoba.
2 Siswa SMU Ikut Ditangkap
BNN yang menangkap YHS kemudian langsung mengembangkan kasus tersebut. Dari hasil pengembangan, berhasil diamankan dua orang perempuan yang masih berstatus pelajar berinisal PA dan FA dalam satu kamar. Kamar lainnya yang bersebalahan, ditangkap HD dan seorang wanita berinisal TA.
"Di kamar HD dan TA didapatkan 0.8 gram sabu dan di kamar PA dan FA didapati 2 gram sabu dan 14 butir ekstasi," terang Benny.
Tidak hanya YHS yang ikut ditangkap, seorang pria berinisal M ikut digelandang di ruko mulik YHS.
Terkait penangkapan dua siswi tersebut, Benny mengaku masih mengembangkan kasus ini apakah kedua siswa tersebut digunakan sebagai kurir untuk menyebarkan narkoba ke ana-anak sekolah di Medan.
"Masih kita telusuri lebih dalam," ujarnya.
(tfq/lh)











































