NII Diduga Bergabung dengan Kelompok Azahari Cs

NII Diduga Bergabung dengan Kelompok Azahari Cs

- detikNews
Senin, 18 Okt 2004 13:28 WIB
Bandung - Ancaman keamanan Indonesia ke depan, masih lebih tertuju pada teror-teror bom. Pasalnya, jaringan teroris yang dipimpin Azahari dan Noordin Moh Top, yang gemar menebar bom ini terbukti ada di Indonesia dan masih belum tertangkap seluruhnya. Bahkan, kelompok ini berhasil melakukan rekrutmen-rekrutmen baru sehingga kekuatannya bertambah. Salah satu yang direkrut, diduga NII (Negara Islam Indonesia). Demikian dikemukakan Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar menjawab pertanyaan pers usai menutup Kursus Reguler Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri Angkatan ke-40 di Lembang Bandung, Senin (18/10/2004).Menurut Kapolri, kasus terakhir dari temuan bahan peledak yang sudah dirakit di Cicurug Sukabumi, menandakan jaringan kelompok ini masih ada. "Apalagi, pelakunya belum dikenal. Tidak tertutup kemungkinan, di dalam perjalanannya 2 aktor utamanya yaitu dr Azahari dan Noordin M Top ini berhasil melakukan rekruitmen baru," katanya.Dari hasil penyelidikan yang ada, pelaku atau anggota lama jaringan ini biasanya berasal dari Jatim dan Jateng. Namun kini, dari beberapa kali penggerebegan dan temuan yang ada di Jabar, Kapolri mensinyalir kelompok ini sudah mulai mendapatkan anggota baru di wilayah ini. "Salah satu yang diduga adalah kelompok NII (Negara Islam Indonesia,-red). Diduga, kelompok ini sudah dipengaruhi dan bergabung ke kelompoknya Dr Azahari itu," tuturnya lagi.Soal kelompok NII mana yang bergabung, apakah Kompartemen Wilayah (KW) XI seperti yang pernah beredar, Kapolri menegaskan bahwa di antara jaringan atau kelompok itu memang ada istilah-istilah tersendiri. "Yang jelas, indikasinya ada rekruitmen baru itu kuat," katanya lagi.Menyinggung soal temuan-temuan di Cicurug Sukabumi, adanya dokumen-dokumen serta petunjuk membuat bom, Kapolri menegaskan bahwa hal itu amatlah berharga untuk penyelidikan selanjutnya. "Dokumen-dokumen itu jelas akan dipelajari. Namun indikasi yang jelas, Dr Azahari mengajari anggota-anggotanya bagaimana cara membuat bahan peledak. Paling tidak ini membuktikan bahwa Azahari itu ada, dan terus beroperasi. Karena itu, kita semua haruslah waspada," katanya menekankan.Soal minimnya partisipasi masyarakat di dalam melaporkan orang asing di sekitarnya, padahal juga sudah ada iming-iming hadiah, Kapolri menilai bahwa partisipasi semacam itu haruslah ditumbuhkan. "Tapi paling tidak, di jajaran kepolisian sendiri Polsek-Polsek yang ada, sebagai lini terdepan harus lebih pro aktif. Ada juga Bintara Keamanan dan Ketertiban Desa, mereka juga harus lebih diaktifkan," tegasnya. Tentu saja, partisipasi masyarakat jika ada orang asing dan mencurigakan di wilayahnya tetap amat diharapkan.Sementara itu, dalam pengarahannya Kapolri banyak menceritakan teknik-teknik yang dipakai Polri di dalam menguak teror-teror bom di tanah air. Teknik-teknik yang dipakai itu menurutnya telah mendapatkan apresiasi yang luas dari kalangan kepolisian negara lain. "Profesionalisme Polri mendapatkan apresiasi yang besar. Saya presentasikan sendiri hal ini di dalam pertemuan Interpol di Meksiko baru-baru ini," paparnya.Karena itu, banyaknya bantuan internasional yang kini diterima Polri menurutnya bukanlah karena mereka kasihan melihat kinerjanya, namun lebih sebagai wujud apresiasi dan penghargaan atas prestasi yang berhasil dicapai. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads