Kementerian Sosial memberikan bantuan kepada para pekerja seks komersil (PSK) yang menghuni kawasan Lapangan Tembak Asri, Moro Kembangan, Surabaya. Bantuan tersebut bertujuan agar para PSK mau meninggalkan pekerjaannya sebagai penjaja seks.
Di hadapan sekitar 200 PSK yang berkumpul di halaman musala Baiturrahman di lokalisasi tersebut, Selasa (28/5/2013), Mensos Salim Segaf Al Jufri mengimbau agar para warga bersemangat dalam menjalani hidup.
"Betul, nek nggak semangat nggak mangan. Semangat untuk mencari rezeki yang halal," ujar Salim santai menimpali seorang PSK yang berteriak, "Nek nggak semangat, nggak mangan,".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Banyuwangi, ada 13 lokalisasi prostitusi, tujuh lokasi sudah ditutup dengan cara manusiawi," ujar Salim.
Di lokalisasi Tambak Asri, Kemensos menyerahkan bantuan dengan nilai total Rp 1.575.300.000 untuk 354 PSK. Bantuan itu terdiri dari Usaha Ekonomi Produktif (UEP) sebesar Rp 3 juta per orang. Ada pula bantuan pemulangan ke daerah asal senilai Rp 250.000 per orang. Terakhir, bantuan jaminan hidup Rp 1.200.000 per orang.
Salah seorang PSK mengaku tobat dan tidak lagi bekerja sebagai penjaja seks. Dia bertekad akan pulang ke kampungnya di Balikpapan, Kalimantan Timur dan meninggalkan catatan hitam di Surabaya.
"Saya mau pulang, ternak ayam, bantuin usaha Bapak saya. Saya melacur baru satu tahun. Itu terpaksa. Sekarang anak saya sudah lulus Sarjana Ekonomi Universitas Brawijaya, sudah kerja di Kantor Pajak, Malang. Yang satu lagi masih kelas 1 SMA di Balikpapan," katanya yang selalu menutup wajahnya dengan kerudung merah jambu ini.
Dia mengaku, suaminya sudah meninggal sejak empat tahun lalu sehingga terpaksa melacurkan diri di Surabaya.
(dnu/rmd)










































