Ada banyak surat elektronik dari pembaca detikcom yang masuk ke redaksi@detik.com. Para pembaca bertutur kisah mereka diakali, diintimidasi, ditakut-takuti, dan diperas para preman itu.
"Sepupu saya bawa mobil pengangkut sayur dari Purwakarta. Di Tol Cawang-Pondok Gede, tiba-tiba dipepet mobil derek liar. Sepertinya mereka membawa magnet besar karena mobil sepupu saya mati tiba-tiba," jelas Sabar dalam surat elektroniknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepupu saya lapor polisi di sekitar Cawang, tak lama polisi itu memberi pertolongan. Akhirnya hanya membayar Rp 100 ribu," jelas Sabar.
Kisah soal markas derek di Cawang itu rata-rata diceritakan pembaca detikcom. Ada juga yang di Tomang, Jakbar. Rata-rata para pembaca juga mengeluhkan uang yang terlalu besar untuk jasa derek. Mereka seperti diperas dan dirampok para preman derek liar. Sebenarnya, kalau biayanya wajar mereka tak mengeluh.
Yang jadi persoalan juga, menurut para pembaca, rata-rata para preman derek liar itu main paksa dan membentak-bentak. "Seperti preman, mengintimidasi," kisah pembaca detik lainnya, Abdul.
Banyak para pembaca yang menyimpan harapan kepada kepolisian untuk bertindak tegas kepada para preman itu. Bahkan tak sedikit juga para pembaca meminta TNI turun tangan menertibkan preman itu.
Pastinya, keberadaan derek liar itu sudah benar-benar mengganggu. Kenyamanan berkendara di Jakarta tak lagi tercipta. Rasa was-was hinggap kala mogok di jalan dan datang derek liar. Semoga saja, pihak kepolisian tak menutup mata dan melakukan gerakan nyata.
(ndr/mad)











































