Hamzah Didorong untuk Datang ke Pelantikan SBY-Kalla

Hamzah Didorong untuk Datang ke Pelantikan SBY-Kalla

- detikNews
Minggu, 17 Okt 2004 11:53 WIB
Jakarta - Meski Presiden Megawati dipastikan tidak akan menghadiri pelantikan SBY-Kalla, namun Wakil Presiden Hamzah Haz terus didorong agar mau datang. Dorongan ini disampaikan para politisi PPP. Salah satunya, dorongan itu disampaikan oleh Ketua DPP PPP Endin AJ Soefihara. Saat dihubungi detikcom, Minggu (17/10/2004), menurut Endin, tentang hadir tidaknya Hamzah ke pelantikan SBY-Kalla sebenarnya bukanlah urusan PPP. "Karena undangan itu untuk jabatan wakil presiden, PPP tidak perlu membahasnya. Namun, secara pribadi, saya mengharapkan Pak Hamzah mau datang. Ini untuk membiasakan diri untuk menerima kalah dan menang. Dalam demokrasi, kalah dan menang itu hal biasa," kata Endin, yang beberapa waktu lalu sempat dicalonkan sebagai ketua DPR itu. Bila Hamzah mau datang, kata Endin, hal ini memberikan nilai plus bagi demokrasi di masa mendatang. "Pak Hamzah bisa menunjukkan kenegarawan-annya. Ini bukti bahwa kompetisi pemilihan presiden sudah berjalan dengan sehat dan masing-masing pihak telah menyatakan menang dan kalah," ungkapnya. Namun, menurut Endin, tentunya hal ini akan sulit terjadi bila sampai Presiden Megawati tetap tidak akan datang. "Secara teknis, memang agak kesulitan, bila nanti Pak Hamzah datang, Ibu Mega tidak. Kan Pak Hamzah juga tidak mungkin datang secara pribadi," kata Endin, politisi PPP yang masuk dalam nama calon menteri dari PPP yang disodorkan kepada SBY itu. Terlepas dari itu, Endin berharap di masa depan, tata cara protokoler seorang presiden dan wakil presiden harus dibenahi. Sehingga, nantinya bila ada pergantian kekuasaan, perubahan penampilan mantan presiden dan wapres tidak terlalu mencolok. "Contoh teknis, seorang presiden dan wapres saat masuk ke gedung MPR akan mendapat pengawalan ketat dari Paspampres. Namun, setelah di gedung itu terjadi pergantian kekuasaan, mantan presiden dan wapres tidak dikawal sema sekali. Ini tentu mempengaruhi secara psikologis. Ke depan, seharusnya dapat diperbaiki," ungkapnya. (asy/)


Berita Terkait