Pelantikan Presiden, Dulu dan Kini
Minggu, 17 Okt 2004 09:55 WIB
Jakarta - Perbedaan sistem pemilihan presiden tentu saja memiliki dampak terhadap pelantikan presiden yang dilakukan MPR. Seremonial saat sidang paripurna MPR yang mengagendakan pelantikan pun memiliki nuansa yang berbeda.Dari sudut konstitusi sebenarnya kata-kata yang digunakan masih sama yakni MPR melakukan pelantikan presiden dan wapres terpilih. Apalagi, yang memandu pelantikan tetap Ketua Mahkamah Agung.Meski tidak ada perubahan, nuansa pelantikan memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini lebih mengacu pada perubahan posisi MPR yang dulu merupakan lembaga tertinggi negara dan kini sederajat dengan presiden."Pride presiden yang dilantik sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lalu karena posisi MPR dan presiden sudah sederajat."Penjelasan tersebut diungkapkan pengamat hukum tata negara Refly Harun dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (17/10/2004)."Kalau dulu posisinya supreme karena yang memilih dan melantik presiden adalah MPR. Tapi, sekarang yang paling penting adalah pengucapan sumpah dan janji presiden dan wapres karena prosesi itu awal mula pemerintahaan baru," tukasnya.Pelantikan presiden dan wapres yang akan dihadiri sejumlah kepala negara seperti PM Malaysia Abdullah Badawi dan PM Australia John Howard tentu saja makin menambah prestisiusnya acara. Meski, kedatangan mereka kali ini hanyalah sebatas tamu undangan biasa."Kedatangan mereka memang tidak lebih dari sebuah kegiatan protokoler. Tapi, mereka melihat ada legitimasi yang tinggi yang dimiliki presiden baru karena dipilih langsung oleh rakyat," jelas Refly. Para pemimpin negara, kata dia, lebih memposisikan sebagai bagian dari sejarah baru. "Ini kan fenomena dan momen yang bersejarah. Jadi, mereka ingin menanamkan saham kepada pemerintahan baru agar bisa menjalin hubungan baik," paparnya. Menanggapi rencana ketidakhadiran Presiden Megawati, menurutnya, undang-undang memang tidak mengatur masalah itu. "Hukum tata negara tidak mengatur mantan presiden wajib hadir dalam pelantikan. Itu hanya menunjukkan bahwa elit bisa bersaing dan kompetisi secara sehat dan siap menerima kekalahan," tandas Refly.
(ton/)











































