CEO Newmont akan Temui SBY
Sabtu, 16 Okt 2004 14:02 WIB
Jakarta - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bakal mendapat ujian serius. Bukan soal bom, teroris, skandal, apalagi isu. Tapi kasus Newmont yang dulu pernah dia 'loloskan' dari putusan ditutup sementara.Chief Executive Officer (CEO) Newmont Mining Corporation Wayne Murdy akan menemui SBY. Presiden terpilih itu diharapkan dapat memecahkan kasus pencemaran lingkungan Teluk Buyat oleh PT Newmont Minahasa Raya (NMR).Menurut Jubir Newmont Doug Hock seperti dilaporkan Dow Jones, Sabtu (16/10/2004), Murdy sudah berada di Indonesia minggu ini dan mengadakan pertemuan dengan pejabat pemerintah. Tujuannya agar 5 pejabat eksekutif NMR dibebaskan dari penjara.Murdy juga dijadwalkan bertemu dengan SBY yang merupakan mantan Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben) pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur."Murdy diharapkan kembali ke markas perusahaan di Denver AS pada Senin (18/10/2004) untuk melaporkan hasil pertemuan. Perusahaan berharap Yudhoyono akan memecahkan kasus Newmont setelah dia bekerja pada 20 Oktober 2004. Dia sepertinya pasti sudi mendengar," kata Hock.Polri menangkap dan menahan 5 pejabat NMR sejak 22 September 2004 dalam kasus pencemaran lingkungan di Teluk Buyat, Minahasa, Sulawesi Utara.Mereka adalah warga AS Bill Long selaku manajer proyek, warga Australia Phil Turner selaku manajer pemeliharaan dan produksi, warga Indonesia David Sompie selaku manajer hubungan eksternal, Jerry Kojansow selaku kepala pengawas lingkungan, dan Putra Wijayatri selaku kepala pengawas pengolahan limbah. Sedangkan Presdir NMR Richard Ness yang diperiksa pada 23 September 2004 batal ditahan dan dilepaskan.Newmont & SBYLalu kenapa CEO Newmont ingin menemui SBY? Ini tak terlepas dari kejadian tahun 1999 silam. SBY selaku Mentamben mengeluarkan surat tertanggal 17 Desember 1999.Isinya berupa alasan adanya ancaman arbitrase dan keterpurukan investasi internasional, SBY menganjurkan kepada Depdagri untuk mendukung tetap kembali beroperasinya NMR.Menurut anggota Jaringan Alumni Unsrat (Jala Unsrat) Denny Tewu, sejak 1996, fakta telah menunjukkan telah terjadi peningkatan kematian berbagai jenis ikan laut dalam jumlah yang besar di Teluk Buyat.Bahkan dari data yang ada, pada tahun 1997 sebenarnya telah tercium bau busuk karena matinya ikan-ikan. Kemudian akhir Juli 1998, pipa saluran NMR sempat mengalami kebocoran.Pemda Sulut pernah menggugat NMR, meskipun kemudian dilokalisasi pada masalah penggelapan pajak. Kasus ini pernah menghasilkan putusan provinsi dengan memerintahkan agar NMR menutup sementara penambangan sampai memiliki kekuatan hukum yang pasti.Namun perkara tersebut kemudian disikapi oleh SBY selaku Mentamben waktu itu dengan mengirimkan surat dan menganjurkan kepada Depdagri untuk mendukung beroperasinya kembali NMR.Jadi, akankah SBY kembali 'meloloskan' NMR? Sepertinya ini bakal jadi ujian serius bagi sang presiden terpilih.
(sss/)











































