Di luar, asisten Menteri-Sekretaris Negara, Yusril Ihza Mahendra, memperhatikan kesibukan itu sembari merokok dengan Panglima TNI Jenderal Wiranto. Tak lama, Wakil Presiden B.J. Habibie menambah keramaian tamu. Karena merasa pertemuan para tokoh penting itu akan lama, Yusril memutuskan pergi.
“Saya kemudian pergi ke rumah Malik Fadjar karena saya menginap di sana,” kata Yusril kepada Detik pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pukul 01.00 WIB, Yusril dan Menteri Saadilah menghadap Soeharto untuk membahas pengunduran diri para menteri itu. Saat itu juga Presiden memastikan pengunduran dirinya sendiri dan meminta Yusril menyusun draf pidato.
“Malam itu juga saya menelepon pimpinan Mahkamah Agung, Pak Sarwata. Saya hanya bilang besok datang pukul 7 pagi di istana. Mohon datang pakai jubah hakim semuanya. Dia tanya, ‘Ada apa Pak Yusril?’. ‘Saya tidak bisa ngomong,’” ujar Yusril.
Yusril menyatakan draf pidato itu kemudian dicoret-coret oleh Soeharto dan ditambahkan beberapa bagian, seperti soal penolakan Komite Reformasi. Naskah asli itu, kata dia, sudah disimpan di Arsip Nasional.
***
21 Mei 1998. Pukul 07.00 WIB, Presiden Soeharto berangkat dari Cendana menuju Istana Presiden. “Sedangkan saya datang ke Istana pukul 6 pagi,” tutur Yusril.
Di Istana sudah menunggu Ketua MA Sarwata, yang masih penasaran akan agenda sepagi itu. “Saya bilang B.J. Habibie akan menggantikan Soeharto untuk disumpah menjadi presiden,” kata Yusril. “Dia sampai panik.”
Pagi itu, Soeharto pun mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden. Di DPR, ribuan mahasiswa bersorak.
Artikel-artikel lain dalam Edisi Khusus 15 Tahun Reformasi: Quo Vadis Reformasi Indonesia bisa dibaca selengkapnya di Harian Detik.
(nwk/nrl)











































