SBY: Longsor Tambang PT Freeport Berbeda dengan Kasus di Chili

SBY: Longsor Tambang PT Freeport Berbeda dengan Kasus di Chili

Mega Putra Ratya - detikNews
Senin, 20 Mei 2013 18:04 WIB
Jakarta -

Longsornya tambang PT Freeport di Papua, berbeda dengan kasus yang baru-baru ini terjadi di Chili. Di Chili, kasusnya adalah para pekerja tambang terjebak longsoran. Sedangkan di Papua yang terjadi adalah para pekerja tertimbun atap tambang yang runtuh. Maka prosedur evakuasinya juga berbeda.

"Saya dapat banyak sekali masukan, saran dan juga harapan agar cara-cara tangani kecelakaan di freeport sepetti yang dilaksanakan di Chilli dulu," ujar Presiden SBY di kantornya, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (20/5/2013).

Musibah yang terjadi di Chili, para pekerja tambang dapat bertahan hidup sebab material longsoran menutup akses keluar. Selain karena di dalam tambang masih ada logistik makanan serta udara segar dapat disalurkan dalam lorong tambang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka masih hidup, bisa komunikasi, masih ada logistik. Dengan bantuan teknologi, mereka akhirnya bisa diselamatkan," papar SBY.

Sementara di Freeport, yang terjadi adalah longsornya bagian atap lorong tambang. Longsoran itu langsung menimpa 38 orang pekerja yang sedang berlatih evakuasi.

"Sekali lagi ini berbeda dengan terperangkap di sebuah ruangan. Saya sudah beberapa kali komunikasi dengan pimpinan Freeport di lapangan, saudara Nurhadi, untuk intensifkan langkah-langkah pencarian," sambungnya.

Kasus ini juga harus menjadi perhatian perusahaan tambang lainnya. Agar selalu memeriksa dan memastikan kembali semua faktor keamanan dan kelayakan lokasi untuk bekerja.

"Saya juga instruksikan dilakukan pengecekan K3. Kita tahu perusahaan seperti Freeport memiliki sistem yang baik namun karena terjadi
musibah kita akan laksanakan investigasi secara menyeluruh apa yang menyebabkan, apakah bencana alam, faktor teknologi, kelalaian petugas,
dan sebagainya, harus ketemu. Dan ke depan tentu jadi pelajaran sangat berharga bagi semua, upaya menjaga keselamatan dan kesehatan kerja,
utamanya di perusahaan tambang atau perusahan lain," paparnya.

(ega/lh)


Berita Terkait