Nurdin Halid Keluar dari Tahanan, Polri Membenarkan
Jumat, 15 Okt 2004 16:24 WIB
Jakarta - Tersangka kasus gula impor ilegal Nurdin Halid dikabarkan keluar dari ruang tahanan Mabes Polri pada Kamis sore, 14 Oktober 2004. Mabes Polri membenarkan hal tersebut. Kok bisa?"Betul, dia memang diizinkan untuk menjenguk orang tuanya yang kritis di Rumah Sakit Pondok Indah. Cuma jenguk saja kok, sekarang sudah balik lagi."Demikian kata Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Suyitno Landung saat dikonfirmasi wartawan di kantornya jalan Trunojoyo Jakarta Selatan, Jumat (15/10/2004)."Pemberian izin itu diberikan dengan pertimbangan aspek kemanusiaan. Namun meski diizinkan untuk keluar dari ruang tahanan, Nurdin tetap mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan," jelasnya.Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar sebelumnya mengaku belum mengetahui adanya pemberian izin keluar terhadap Nurdin. Tapi menurutnya, pemberian izin itu sekiranya bisa diberikan dengan beberapa pertimbangan."Saya akan cek. Tapi ada hal-hal yang manakala keluarga sakit, saya kira bisa diberikan izin. Tapi dengan syarat pengawalan ketat, dan setelah itu harus kembali lagi. Itu prosedurnya," katanya.Dikonfirmasi mengenai terdapat sejumlah fasilitas tambahan di ruang tahanan Nurdin seperti AC, TV dan spring bed, Da'i menampiknya. "Semua perlakuan kepada seluruh tahanan seharusnya sama. Tapi kalau ada penyimpangan akan saya cek," tukasnya.Dipergoki Tanpa PengawalanSeorang saksi mata sempat memergoki Nurdin saat memasuki kantin Rumah Sakit Pondok Indah sekitar pukul 19.30 WIB, Kamis 14 Oktober 2004. Nurdin, yang saat itu mengenakan kemeja lengan pendek, sempat beradu mata dengan saksi selama beberapa detik. Sadar kalau saksi mengenalinya, Nurdin tampak tersentak.Nurdin pun buru-buru meraih handphone dan berlagak sedang menerima telepon. Namun tangan kanannya yang menggenggam handphone, sekaligus menutupi sebagian wajahnya. Sedangkan tangan kirinya menutupi mulutnya, seolah-olah tidak mau terdengar apa yang sedang dibicarakannya."Dia memang Nurdin Halid. Ayahnya yang sakit dan dirawat di sini. Saat di kantin, dia duduk di pojok sebelah kanan. Dia sendirian kok. Tidak ada pengawalan. Tidak ada tuh polisi atau orang-orang berambut cepak dan berjaket kulit yang mengawal dia," tutur sang saksi.Lho, pak polisi, katanya dikawal?
(sss/)











































