"Rambut saya dulu kribo. Saya dulu pengin jadi Jimi Hendrix," kata Gita pada acara talkshow bersama Rosiana Silalahi di UIN Syarif Hidayatullah, Jl Ir H Juanda, Ciputat, Jakarta, Sabtu (18/5/2013).
Sebelum menempuh pendidikan akuntansi, Gita memang pernah belajar musik. Dia mengaku semat belajar musik klasik dan mendalami musik jazz. Sejumlah nama musisi klasik seperti JS Bach, Frederich Chopin, hingga Debussy dia sebut sebagai idolanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian, di tahun keempat (usai mengambil kelas musik), saya mengambil akuntansi. Saya mencukur rambut saya, membiasakan pake sepatu dan dasi," imbuhnya.
Diapun sempat mencari nafkah sebagai 'musisi panggilan' di acara-acara kawinan. Konsekuensinya, Gita harus berkompromi dengan selera musik kelas dewa yang dia anut. Gita menjadi sering memainkan lagu pop dan country.
Perubahan drastis itu dikarenakan nasihat ibunya yang dia katakan 'ibu selalu benar, tidak bisa kita berdebat dengan ibu'.
"Dimarahin sama ibu saya. Karena karir musisi kurang menjanjikan," ungkapnya.
Akhirnya, seperti Gita yang dikenal publik saat ini, dia terjun di pemerintahan. Tugas sebagai seorang pemerintah dinilainya lebih mulia karena berpengaruh bagi nasib banyak orang.
"Meskipun kalau jadi pengusaha, pendapatan saya bisa lebih banyak. Tapi yang saya cari di sini (di pemerintahan) adalah kepuasan batin. Apa keputusan yang saya lakukan bisa mempngaruhi nasib orang banyak. Itu adalah mulia," pungkasnya.
Dalam talkshow ringan tersebut, selain Gita yang berjas hitam, hadir juga Wakil Gubernur Basuki T Purnama yang mengenakan batik warna emas. Ada juga penulis asal Malang bernama Iwan Setyawan.
(dnu/rvk)











































