Para Jenderal Polisi di Markas Ormas Pembela Aiptu Labora

- detikNews
Sabtu, 18 Mei 2013 06:08 WIB
Aiptu Labora (kiri/ Foto Andri H: detikcom)
Jakarta - Aiptu Labora Sitorus, personel Polres Raja Ampat Papua yang ditengarai memiliki transaksi Rp 1,5 triliun selama 5 tahun, nekat terbang ke Jakarta untuk mengurus persoalan yang membelitnya.

Di Jakarta dia menemui Organisasi Kemasyarakatan Pembela Kesatuan Tanah Air (Pekat) Indonesia Bersatu. Siapa Pekat yang mendampingi Labora?

Sekretariat DPP Pekat, Kompleks Harmoni Plaza Apartemen Istana Harmoni Unit GF-IF, Jl. Suryopranolo 2, Jakarta Pusat, Jumat (17/5/2013) sore, terlihat sibuk. Terlebih di lantai dua ruang dimana ketua umumnya, Markoni Koto, berkantor.

Tidak tampak papan nama atau penanda khusus bahwa di salah satu deretan ruko tersebut menjadi markas ormas. Dari luar terparkir mobil-mobil mewah dari mulai sedan sampai SUV. Penjaga markas ormas pun laiknya penjaga kantoran, bersafari hitam dan berbadan tegap.

Di ruang Markoni Koto tampak Aiptu Labora Sitorus, pengacaranya Azat Hutabarat, dan beberapa anggota Pekat tumplek menyaksikan sang bintara tinggi tengah meladeni wawancara khusus stasiun televisi.

Di meja kerja ruang tersebut terpampang tiga foto sang ketua umum tengah bersama tiga jenderal Polri; Kepala Biro Bindiklat Lemdikpol, Brigjen Anton Charliyan, Kapolda Papua Irjen Tito Karnavian, dan Wakapolri Komjen Nanan Sukarna.

Brigjen Anton dan Tito tidak mengenakan jaket kebesaran Pekat, sementara Komjen Nanan menggunakan jaket hitam beremblem Pekat. Di samping deretan foto tersebut berjajar hasil kerajinan khas Papua.

Rak kaca yang berhadapan langsung dengan meja kerja Markoni tak banyak. Beberapa buku berada di tumpukan rak teratas, sementara di bagian tengah rak terlihat bongkahan kayu dan batubara kecil tersusun rapih.

Labora mengaku sejak Polda Papua menetapkan dirinya sebagai tersangka dalam kasus penimbunan BBM dan pembalakan kayu, dia dan keluarganya sudah mulai tidak merasa nyaman. Dia pun nekat terbang ke Jakarta untuk mengurus permasalahan yang membelitnya tersebut.

"Seandainya saya minta izin memang dikasih? Tidak kasih izin. Jadi saya nekat saja ke sini," tutur pria berbadan tambun ini.

Pengacara Labora, Azet Hutabarat, mengaku merupakan bagian dari keanggotaan DPP Pekat Indonesia Bersatu. Dia pun menjadi tim pengacara dari ormas yang menaunginya.

"Apakah Labora juga merupakan masuk dalam organisasi Pekat?" tanya detikcom.

"Labora tidak masuk dalam organisasi namun para pegawai perusahaannya adalah orang-orang Pekat," kata Azet.

Lalu, dalam kapasitas apa para jenderal tersebut di dalam pekat? Usut punya usut, Wakapolri Komjen Nanan Sukarna merupakan salah satu pengurus dalam organisasi tersebut.

Nanan terpilih sebagai Ketua Penasehat Umum Pekat berdasarkan hasil Musyawarah Nasional Pekat Februari 2012 lalu.

Dari beberapa penelusuran mengenai Pekat, Nanan juga aktif menyambangi Pekat di tingkat kewilayahan, salah satunya di Sumatera Barat pada awal Mei 2013 lalu, usai melakukan pelantikan pengurus baru IMI Sumbar.

(ahy/fdn)