Dalam catatan detikcom, sedikitnya ada empat trik proses serah terima uang suap yang terbilang unik. Cara yang dilakukan mereka termasuk tak biasa, namun ujung-ujungnya tetap ketahuan juga.
Berikut empat trik koruptor saat transaksi suap:
Jalan Berpapasan Pura-pura Tak Kenal
|
|
Juru bicara KPK Johan Budi mengatakan proses penangkapan ini terjadi sekitar pukul 17.00 WIB di lorong Stasiun Gambir. Di lokasi ini, ada Pargono Riyadi serta Andreas alias Rukimin Tjahyanto, kurir perusahaan yang diperas.
Saat itu Rukimin memberikan uang di dalam tas plastik kresek kepada Pargono. Nah proses pemberian uang ini dari Rukimin ke Pargono berlangsung sangat singkat. Bahkan mirip seperti film.
Saat itu Rukimin dan Pargono berjalan dari arah yang berlawanan. Tentu saja di tangan Rukimin sudah siap uang berisi pecahan Rp 100 ribu.
Pada sebuah titik, mereka kemudian berpapasan. Tas berisi uang itu pun langsung berpindah tangan. Tanpa ada pembicaraan, keduanya langsung berpisah.
Saat itulah, KPK langsung menangkap Rukimin. Namun ternyata Rukimin sempat melawan. Perdebatan pun tak bisa dihindari. Namun karena kalah jumlah, Rukimin pun cuma bisa pasrah. KPK pun langsung memborgol Rukimin.
Pargono pun ditangkap juga tidak jauh dari lokasi penangkapan Rukimin.
Pindah Koper di Depan Lift
|
|
Jaksa memiliki 2 rekaman CCTV saat proses serah terima ini. Rekaman pertama menunjukkan Billy menyerahkan langsung tas hitam kepada M Iqbal. Sedangkan rekaman kedua, menunjukkan posisi M Iqbal yang menerima tas saat berada di dalam lift.
Terlihat memang Billy Sindoro memegang tas hitam dan menyerahkan tas pada M Iqbal sesaat sebelum masuk lift.
Keduanya sudah dinyatakan bersalah dan menjalani hukuman masing-masing.
Pakai Kardus Duren
|
|
Saat rekonstruksi, terlihat jelas adegan perpindahan uang Rp 1,5 miliar yang disimpan dalam kardus bertuliskan Durian Thai King Fruit.
Kisah itu bermula usai tersangka Dharnawati memasukkan kardus bertuliskan durian berisi uang Rp 1,5 miliar ke dalam mobil Toyota Avanza hitam B 1894 SKG. Tak lama setelah itu, anak buah Kabag Perencanaan dan Evaluasi Dadong Irbarelawan, Dandan, menghampiri Dharnawati untuk memperkenalkan diri. Kemudian keduanya bercakap-cakap dan Dandan kembali lagi masuk ke dalam kantor.
Lima menit kemudian, Dadong datang mengenakan baju batik dan mengobrol dengan Dharnawati. Sementara sopir Dharnawati Elias berada di luar mobil.
Di dalam mobil tampak keduanya bercakap. Dharnawati bahkan sempat memberikan slip tanda terima BNI berwarna putih. Dadong lalu masuk ke kantor dan tak lama kemudian Dharnawati mengikuti.
Sekitar 10 menit kemudian, Dandan keluar untuk menuju parkiran mobil Toyota Avanza silver B 1818 UL. Kemudian dia ke belakang kantor. Sementara Elias, ditelepon Dharnawati agar mengikuti mobil yang dikemudikan Dandan.
Kisah selanjutnya, Dandan memarkirkan mobilnya dan jalan menuju Elias.
"Sini, sini," kata Dandan sambil berjalan kaki.
Elias lalu mengikuti di belakangnya. Sampai di tempat mobil Avanza yang diparkir Dandan, tanpa pembicaraan, Dandan membuka bagasi mobilnya. Elias lalu membuka pintu tengah Avanza hitam Dharnawati.
Kardus bertuliskan durian berisi uang Rp 1,5 miliar pun berpindah tangan dengan cara digotong ke Avanza silver. Elias lalu pergi dan Dandan melapor ke Dadong meninggalkan mobil Avanza silver.
Mobil Parkir Tak Dikunci
|
|
Sehari sebelum ditangkap KPK, Dian dan Eko membawa mobil Avanza hitam ke parkiran Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Kunci mobil diberikan ke seseorang yang diduga sebagai kurir. Dian dan Eko pun kemudian pulang.
Tak lama setelah itu, Teddy si pemberi suap pun memasukkan uang sebesar SGD 300 ribu ke dalam mobil itu.
Dian, Eko dan Teddy pun datang bersama-sama ke lokasi untuk mengambil uang keesokan harinya. KPK pun langsung menangkap ketiga orang itu.
Halaman 2 dari 5











































