Demikian ungkap mantan Kapolri Jenderal Pol (Purn) Da'i Bahtiar yang ditemui di Graha CIMB Niaga, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (15/5/2013). Dia menampik keras semua tudingan miring terhadap Densus 88 Polri.
"Ada yang bilang 'kan lagi pembukaan Sespim (Sekolah Perwira Menengah), ya supaya lebih kelihatan kerja dan bisa masuk Sespim'. Jadi tidak hanya di luar, tapi juga dari dalam," ujarnya sambil tertawa.
Mantan dubes RI untuk Malaysia ini membenarkan bahwa kadang waktu penyergapan terhadap kelompok teroris bersamaan dengan sedang berhembusnya isu tertentu. Tetapi sangat keliru bila faktor kebetulan ini lantas dijadikan dasar menudingnya sebagai aksi pengalihan isu.
"Sudah bukan jamannya seperti itu. Terkadang memang kerja polisi bertepatan dengan momen-momen tertentu," tegas Da'i.
Da'i merupakan Kapolri yang menjabat sejak November 2001 hingga Juli 2005, saat dia menduduki kursi orang nomor satu di Polri terjadi peristiwa besar gerakan teroris, yaitu aksi bom Bali tahun 2002 yang dilakukan kelompok Amrozi. Sejak saat itu, Dai membentuk satuan elit Densus 88/Antiteror yang dipimpin oleh Komjen (pur) Gories Merre.
(ahy/lh)











































