Impian Si Mata Biru Ramilah

Laporan dari Rusia

Impian Si Mata Biru Ramilah

- detikNews
Jumat, 10 Mei 2013 09:12 WIB
Impian Si Mata Biru Ramilah
Ramilah (Nurul Hidayati/detikcom)
Kazan, - Namanya Ramilah. Matanya cantik kebiruan, hidungnya mancung dan berkulit putih. Dengan jilbabnya, Ramilah tampak berbeda dengan orang-orang yang lalu lalang di benteng dan pusat administrasi (kremlin) Kazan, kota ketiga terbesar di Federasi Rusia setelah Moskow dan St Petersburg. Kazan bisa ditempuh 1,5 jam dengan pesawat dari Moskow.

Masih ada hal menarik dari Ramilah, yaitu dia bisa diajak bicara bahasa Indonesia. "Sedikit sedikit (bisa)," ujarnya tanpa melepas senyum. Kremlin Kazan didominasi tembok putih, berbeda dengan Kremlin Moskow yang didominasi tembok merah.

Usia Ramilah 28 tahun dan dia bekerja sebagai penjaga toko suvenir di kremlin Kazan yang merupakan magnet utama turisme. Tokonya sempit dan nyempil di dekat pintu keluar kremlin. Toko ini menjual gantungan kunci dengan motif masjid, tempelan kulkas, tasbih, hingga kopiah dan kain kerudung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak dinyana Ramilah juga pernah bertandang ke Indonesia sendirian. Dia menemui sahabat-sahabatnya dan mampir ke Jakarta, Surabaya, Malang dan Lombok. "Saya 2 bulan di sana," ujarnya, masih tersenyum lebar dan mata berbinar.

Rabu siang itu, cuaca di Kazan cukup bersahabat, sekitar 18 derajat. Meski demikian lapisan jaket tebal tetap diperlukan karena angin yang berhembus menusuk kulit. Ramilah seperti gadis Rusia pada umumnya, tampil modis dengan coat warna biru.

Indonesia sangat menarik hati Ramilah hingga dia merencanakan ke datang lagi setelah urusannya di Rusia beres. "Insya Allah saya saya mau ke Indonesia lagi," ujarnya.

Selain Indonesia, menunaikan ibadah haji adalah cita-citanya. "Saya belum naik haji, tapi itu adalah mimpi saya," ujar Ramilah.

Ramilah adalah satu dari 25 juta warga Rusia (nyaris sebanding dengan penduduk Arab Saudi) yang beragama Islam. Dia menetap di Kazan, ibukota Republik Tatarstan. Republik ini dipimpin oleh presiden dibantu menteri-menteri dan memiliki konstitusi sendiri.

Tatarstan memiliki luas 67.836 km2 dan berpenduduk 3,8 juta orang dengan mayoritas beragama Islam (53,2%) dan Kristen Ortodoks (46%). Tatarstan salah satu wilayah paling berkembang di Rusia dan merupakan penghasil migas. Dua suku bangsa dominan dengan porsi yang seimbang di daerah otonom ini adalah suku Tatar dan Rusia.

Ramilah hidup rukun dan damai bersama warga dari agama dan suku yang berbeda. Semua orang bebas menjalankan ajaran yang diyakininya era glasnost dan perestroika, bebas dari pemberangusan selama 74 tahun di bawah komunisme.

Soal kerukunan ini juga diakui oleh Aydar Khasanov, seorang pegawai Kementerian Pariwisata setempat yang juga beragama Islam. "Di sini toleransi tinggi. Kehidupan kaum muslim di sini tidak berbeda dengan kaum muslim lainnya," ujarnya.

Catia, seorang tour guide yang fasih berbahasa Inggris dan Jerman, juga menyatakan hal serupa. Penduduk Kazan berasal dari beragam etnis dan agama, namun mereka bisa berasimilasi dengan baik bahkan banyak yang membentuk keluarga. "Kami bisa hidup bersama dengan rukun," ujar perempuan kelahiran 1979 ini.

Kerukunan kaum Islam dan Kristen Ortodoks di Kazan bahkan mendapat pengakuan dari UNESCO. Lembaga internasional itu melihat kerukunan yang mewujud dalam dua monumen yang berdiri bertetangga di kremlin yaitu Masjid Kul Sharif yang memiliki 8 menara dan Katedral Annunciation, peninggalan abad 16. Keduanya bersama monumen-monumen lainnya di kremlin kini menjadi daya tarik wisatawan.

Bicara soal wisatawan, saat ini Kementerian Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Republik Tatarstan sedang berupaya menarik minat turis asal Indonesia untuk berkunjung ke negerinya. Sebagai langkah awal menggenjot rencana itu, kementerian ini mengundang sejumlah wartawan termasuk detikcom, serta operator tur asal Indonesia, dalam perjalanan bertajuk Familiarization Trip pada 8-11 Mei 2013.

"Kami ingin mengetahui apa yang perlu kami lakukan untuk menarik turis dari Indonesia. Kami membutuhkan opini dan rekomendasi Anda," ungkap Wakil Menteri Sergey Ivanov. Ivanov menerima rombongan di kantornya, bertepatan dengan hari libur perayaan kemenangan Rusia atas Jerman 1941-1945 (Victory Day) pada Kamis 9 Mei 2013.

Tatarstan dan Indonesia sejatinya telah lama menjalin hubungan. Awal bulan Mei 2013, Presiden Rustam Minikhanov bertandang ke Jakarta dan melakukan pembicaraan kerja sama ekonomi dengan para menteri di bawah Menko Perekonomian Hatta Rajasa serta bertemu pengusaha Kadin. Indonesia berniat menjual makanan halal ke Tatarstan, sedang Tatarstan berniat menjual hasil industri pertahanannya.

Tatarstan juga telah menjalin hubungan erat dengan PBNU. Karena itu dalam Famtrip ini hadir juga dua utusan ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

"Secara reguler pemerintah Indonesia juga mengundang mahasiswa Kazan untuk ke Indonesia guna belajar Islam, misalnya di Kota Yogya dan Malang," jelas Wakil Dubes Indonesia untuk Rusia, Moenir Ari Soenanda.

Menurut Moenir, wisata Kazan sangat potensial. Kota ini memiliki kremlin yang indah, gedung-gedung tua yang megah dan bersejarah dan semua itu bisa dijual ke Indonesia. Karena itu Moenir mengusulkan dijalin kerja sama operator wisata Indonesia - Rusia yang menjual paket tur di Kazan/Tatarstan. Sementara itu, turis Rusia telah lama mengenal Bali sebagai destinasi favorit. Mereka tak segan menyarter pesawat untuk menikmati pesona Pulau Dewata.

Tertarik menjelajah Kazan? Mudah sekali mencapainya. Cukup menempuh rute penerbangan Jakarta-Dubai-Kazan, hap! sampailah Anda di tujuan. Kunjungan ke kremlin adalah wajib, siapa tahu Anda akan bersua dengan Ramilah dengan sapaan bahasa Indonesianya.
(nrl/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads