Saat Pilpres, PTPN V Sangkal Instruksikan Karyawan Pilih Mega
Rabu, 13 Okt 2004 17:51 WIB
Pekanbaru -
Pilpres memang telah usai. Namun adanya sinyalemen BUMN untuk mendukung salah satu pasangan kembali meruyak. Misalnya 16 ribu karyawan PTPN V di Riau saat pilpres II, mengaku diintruksikan untuk memilih pasangan Mega-Hasyim. Tapi pihak manajemen menyangkal. Setelah pilpres II usai dan menghantarkan pasangan SBY dan Kalla untuk memimpin bangsa ini lima tahun ke depan, barulah karyawan BUMN PTPN V yang berpusat di Riau angkat bicara. Sebelumnya, 16 ribu karyawan bungkam karena takut ancaman pemecatan dari perusahaan perkebunan sawit terbesar di Sumatera itu bila pasangan Mega yang menang. Menurut Hermansyah, salah seorang karyawan, dua hari menjelang hari H pencoblosan, mereka didatangi tim perusahaan yang berpusat di Pekanbaru. Serikat Pekerja Perkebunan (SP-BUN) menyebarkan brosur keberhasilan Megawati selama menjadi presiden. Karena itu mereka juga diintruksikan untuk memilih pasangan Mega-Hasyim."Kita diminta untuk mendukung psangan Ibu Mega. Intruksi ini katanya merupakan kebijakan pihak perusahaan. Tapi, walau kami dipaksa, tetap saja suara Mega keok di perkebunan PTPN V," kata Hermansyah kepada detikcom, Rabu (13/10/2004) di Pekanbaru.Ia berani menceritakan ini setelah ada kepastian SBY dan Jusuf Kalla terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Sebelumnya, tak satu karyawan pun yang berani membongkar instruksi pimpinan mereka. Sebab, bila terbukti karyawan tidak mematuhinya, mereka akan dikenakan sanksi."Karena sekarang Pak SBY sudah menang, ya kami mau menceritakan ini. Kami berharap, untuk pemilu mendatang, jangan ada lagi paksaan bagi karyawan untuk memenangkan salah satu calon presiden. Ini kan sudah zamannya keterbukaan," kata Hermansyah berdiplomasi.Sampai saat ini, ribuan karyawan di perusahaan sawit milik negara itu masih menyimpan sejumlah brosur tentang keberhasilan Mega. Brosur itu mereka simpan sebagai bukti bahwa karyawan PTPN V pernah diminta untuk mendukung salah satu pasangan calon presiden."Padahal semestinyakan, BUMN bersikap netral dalam pemilu. Jangan lagi kami dipaksa menentukan suara politik rakyat kecil," kata ayah tiga orang anak itu sembari menunjukkan brosur bergambarkan Megawati Soekarnoputri.Sementara itu, Humas PTP Nusantara V Badran membantah bila manajemen perusahaan dalam pilpres tidak bersikap netral. Menurutnya, tidak pernah Direksi PTPN V menginstruksikan karyawannya untuk memilih salah satu pasangan calon presiden."Kami tidak pernah memaksa karyawan untuk mendukung pasangan Mega-Hasyim," bantahnya kepada detikcom, Rabu (13/10/2004) saat ditemui di ruang kerjanya, Jl Rambutan Pekanbaru.Kalau pun ada ditemukan brosur bergambar Megawati ditangan karyawan PTPN V, lanjut Badran, itu bisa jadi dilakukan oleh orang lain. "Kalau memang ada bukti brosur Mega, itu mungkin orang lain yang memberikan kepada karyawan kita. Namun, kami dari perusahaan tidak pernah melakukan itu," tandasnya.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































