"Saya ke sini hanya memenuhi undangan saja. Saya mau nanya sama mereka maksud (undangan) ini," ujar Risa saat ditemui di Arion Swiss-bel Hotel, Jalan Otista, Kota Bandung, Selasa (23/4/2013).
Ia mengaku memilih meunggu hasil penyelidikan KNKT soal penyebab kecelakaan pesawat itu. Setelah itu, baru ia akan menentukan sikap akan mengambil langkah apa. "Saya sudah punya lawyer sendiri," tegasnya.
Bagi Risa, uang tidak bisa menghilangkan traumanya naik pesawat. Sehingga ia tidak melihat uang Rp 55 juta sebagai 'obat'. "Kalau Rp 55 juta, dengan berapa kali balap saya bisa dapat. Tapi bukan itu masalahnya, bukan soal uang," paparnya.
Dalam insiden gagal mendarat itu, Risa mengaku tidak mengalami banyak luka. Hanya memar di beberapa bagian tubuhnya dan itu sudah diobati di rumah sakit.
Usai kecelakaan, Risa kembali ke Bandung menggunakan pesawat Air Asia pada Senin (15/4/2013). "Saya di pesawat nangis sepanjang perjalanan," ucapnya.
Risa sendiri pergi ke Bali bersama suaminya, Steven Wong. Ia ke sana untuk menghadiri sebuah acara sebagai motivator salah satu perusahaan swasta.
Berbeda dengan Risa, Nining (28), ia menerima santunan dari Lion Air. "Sebenarnya santunan ini bukan berarti obat yang bisa menyembuhkan trauma," paparnya.
Tapi dengan berbagai pertimbangan, ia memilih mengambil santunan itu. Saat menggunakan pesawat itu, perempuan yang tinggal di Bandung ini bertujuan pergi ke Mataram untuk menyusul suaminya yang bekerja. Pesawat itu transit di Bali, dan justru jatuh ke laut.
(orb/ern)











































