3 Ibu Pingsan di Altar Bom Bali

3 Ibu Pingsan di Altar Bom Bali

- detikNews
Selasa, 12 Okt 2004 09:29 WIB
Bali - Jerit tangis dan histeris mewarnai acara peresmian Monumen Bom Bali. Tiga ibu tak kuasa menahan emosi hingga tak sadarkan diri di altar monumen.Insiden itu terjadi usai acara peresmian Monumen Tragedi Kemanusiaan Peledakan Bom 12 Oktober 2002 di ground zero yang terletak di antara Sari Club dan Paddy's Pub jalan Legian Kuta Bali, Selasa (12/10/2004).Ketiga ibu yang merupakan keluarga korban tewas bom Bali tergeletak pingsan saat hendak dan setelah meletakkan karangan bunga di depan altar monumen.Beberapa petugas medis langsung mengangkat tubuh ketiga ibu itu dan dievakuasi ke dalam kantor Bank Panin yang berjarak beberapa meter di sebelah monumen.Dua di antaranya adalah Ketut Jonpri asal Pemogan Denpasar dan Chusnul Chotimah asal Sidoarjo Jatim. Chusnul masih tak sadarkan diri, sedangkan dua ibu lainnya sudah berangsur pulih."Saya nggak bisa ngomong, pokoknya nggak bisa, nggak kuat," ujar Ketut Jonpri menggelengkan kepala sambil terus menangis saat ditanya wartawan.Sementara sekitar 20 ibu menangis terisak-isak di depan altar monumen. Ibu Rasni yang masih terus menangis mengaku tidak kuat menahan emosi setelah melihat nama suaminya yang menjadi korban tewas Made Sujana terpahat di prasasti monumen."Awalnya saya coba tahan. Tapi setelah melihat nama suami, saya tidak bisa menahan emosi dan langsung menangis," tutur Ibu Rasni yang suaminya tewas saat bertugas sebagai security di Sari Club ketika bom Bali meledak. Dia datang bersama 2 anaknya yang masih kecil.Para ibu kebanyakan berasal dari Paguyuban Isana Dewata yang merupakan kumpulan para suami dan istri yang pasangannya menjadi korban tewas bom Bali. Anggotanya 22 orang dengan jumlah anak 47 orang. Mereka mengenakan pakaian seragam bertuliskan 'We are family Bali bombing victim'."Saya serahkan proses hukum pelaku bom Bali kepada yang berwajib. Inginnya sih cepat-cepat dieksekusi, tapi bagaimana lagi, saya dengar proses hukumnya masih berlanjut. Soal hukuman, bagaimana lah seharusnya supaya kita puas," ujar Ibu Rasni.Para korban luka yang menghadiri acara peresmian monumen terlihat masih belum pulih meski sudah 2 tahun berlalu. Tampak perban permanen untuk luka bakar masih melilit dan menempel di tangan maupun wajah korban. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads