Kualitas Tinta yang Buruk Nodai Pemilu Afghanistan

Kualitas Tinta yang Buruk Nodai Pemilu Afghanistan

- detikNews
Sabtu, 09 Okt 2004 16:01 WIB
Jakarta - Pemilu bersejarah Afghanistan dinodai dengan buruknya kualitas tinta. Tinta tersebut dapat dengan mudah dihapus sehingga memungkinkan beberapa pemilih di negeri bekas rezim Taliban itu mencoblos lebih dari satu kali. Hal ini membuat pusing para pekerja pemilu. Sejumlah kandidat presiden mengatakan bahwa itu akan mendorong kecurangan-kecurangan. Masalah kualitas tinta yang buruk sejauh ini baru ditemukan di TPS-TPS di ibukota Kabul dan kota Mazar-e-Sharif, Afghanistan utara. Namun mungkin pula masalah serupa terjadi di TPS wilayah lain di negeri berpenduduk 25 juta jiwa itu, yang miskin pengalaman dalam menyelenggarakan pemilu."Ini satu kesalahan. Saya harap ini bukan masalah di semua TPS, namun kami sedang menyelidiki," ujar Juru bicara Komisi Pemilihan Umum (KPU), Aykut Tavsel seperti dilansir kantor berita Associated Press, Sabtu (9/10/2004).Sekitar 10,5 juta kartu pemilih dibagikan sebelum pemilihan presiden pertama di negeri yang porak-poranda akibat perang itu. Ini jumlah yang mencengangkan, bahkan pejabat-pejabat PBB dan Afghan sendiri mengakui bahwa jumlah itu diakibatkan pendaftaran ganda yang meluas.Menurut beberapa kelompok HAM, sejumlah orang memperoleh empat atau lima kartu suara. Penyelenggara pemilu sebelumnya telah menegaskan bahwa tinta yang tidak dapat dihapus akan mencegah orang untuk memilih dua kali, meskipun mereka punya lebih dari satu kartu suara. Namun para pemilih di banyak bagian di Kabul memperlihatkan kepada para wartawan bagaimana mudahnya menghapus tinta pada jari mereka. Beberapa kandidat presiden yang tidak diunggulkan, menuding bahwa ini merupakan upaya untuk curang."Keluarga saya sendiri dan tetangga-tetangga kami yang pulang dari TPS, sangat mudah menghapus tinta itu," ujar Hafiz Mansoor, salah seorang kandidat penantang Presiden Afghan berkuasa Hamid Karzai. "Ini trik yang dirancang guna mempermudah jalan untuk curang!" serunya. (ita/)


Berita Terkait