Panglima Harus Jelaskan Alasan Pengunduran Dirinya
Sabtu, 09 Okt 2004 14:37 WIB
Yogyakarta - Mundurnya Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menunjukkan ada yang tidak beres di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Agar tidak menimbulkan spekulasi di masyarakat, sebaiknya Endriartono mengumumkan kepada publik alasan pengunduran dirinya dari jabatan panglima TNI.Demikian disampaikan Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Lambang Triyono kepada detikcom di kantornya Jl Asem Kranji Bulaksumur Yogyakarta, Sabtu (9/10/2004)."Ini artinya ada sesuatu yang tak beres di tubuh TNI, terjadi krisis kepemimpinan dan krisis kaderisasi. Semestinya, kaderisasi di tubuh TNI khususnya AD itu harus mempunyai kejelasan," katanya.Lambang menambahkan, Ryamizard Ryacudu yang memegang tiga jabatan strategis jelas menunjukkan terjadi kekurangan personil pimpinan di tubuh TNI AD. Dengan demikian bila ada salah satu pimpinan tinggi yang pensiun atau berhalangan, penggantinya juga sudah jelas. Selain itu ada ada mekanismenya, yakni dilihat dari senioritas dan kualifikasinya.Lebih lanjut lagi menurut Lambang, jika seorang pejabat di jabatan strategis menyatakan mundur, biasanya karena gagal dalam melakukan tugas atau mempunyai kesalahan. Namun yang terjadi pada Panglima TNI belum jelas alasannya.Pengangkatan dan pemberhentian Panglima TNI, kata Lambang harus mendapat persetujuan dari DPR karena menyangkut pertanggungjawaban publik. Endiartono tidak bisa mundur begitu saja tanpa alasan yang jelas dan tanpa persetujuan DPR. "Dia harus menjelaskan kenapa dia mundur. Sebab jika tidak, masyarakat akan mempunyai cara baca sendiri tentang masalah itu," Lambang berujar.Staf pengajar Fispol UGM itu menilai sangat wajar ketika masing- masing petinggi di TNI berusaha mencari jalan aman saat terjadi proses perpindahan kekuasaan dari Megawati ke Susilo Bambang Yudhoyono. Namun seharusnya kepentingan politik praktis dari perseorangan harus bisa ditepis dan dikesampingkan lebih dulu demi kepentingan yang lebih besar.Menurut Lambang, saat ini di tubuh TNI sedang terjadi konsolidasi kekuatan di antara petinggi-petinggi TNI karena presiden juga akan ganti. Istilahnya sedang terjadi pergeseran loyalitas. Semua personil TNI di ring satu, tampaknya pada posisi tiarap semua"Namun hal itu wajar-wajar saja karena SBY tidak mungkin akan memakai orang-orang yang dulu tidak mendukungnya. Tetapi untuk kepentingan internal TNI, mestinya satu orang merangkap tiga jabatan, tidak boleh terjadi," demikian Lambang Triyono.
(dit/)











































