"Saya belum sekolahin karena saya ingin lihat apa Ipat siap atau nggak. Tapi tahun ini saya sudah niat Ipat mau saya sekolahin," kata Lina di kediamannya Kampung Bahari Gang Tiga RT 04/06 No 214, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2013).
Lina mengkhawatirkan ledekan teman-teman seumuran Ipat, panggilan Fatihayah, melihat kondisi kulit Ipat. Namun teman-teman sekitar rumah Ipat sudah menerima kondisi Ipat apa adanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keinginan kuat Ipat untuk sekolah pun tampak dari tingkah Ipat yang kerap bermain dengan tas, sepatu, dan seragam kakaknya. "Dia mau sekolah, bawa-bawa tas, pakai dasi sepatu punya kakaknya," ujar Lina.
Namun keinginan kuat Ipat untuk tumbuh seperti anak normal lainnya di sekolah belum bisa dipenuhi Lina. Keterbatasan ekonomi dan tiga kakak Ipat yang masih sekolah menjadi salah satu kendala di balik senyum harapan Ipat.
"Pendapatan ya dari orangtuanya saja. Saya berharap ada yang bantuin, mudah-mudahan saja seperti itu," ujar Lina yang mengaku penghasilan suaminya hanya pas-pasan.
Ipat adalah bocah perempuan malang yang diduga menderita kelamin ganda dan memiliki kelainan kulit. Kulit berwarna hitam yang berbulu memenuhi bokong, punggung, perut, paha, tangan, dan pipinya. Operasi pun pernah dilakukan Ipat, namun bekas operasi yang tampak seperti sisik membuat orangtua Ipat makin prihatin.
(vid/rmd)










































