Acara lepas sambut digelar di lapangan depan Makodam Diponegoro, Jalan Perintis Kemerdekaan, Semarang, Rabu (10/4/2013). Usai upacara, acara digelar di sebuah ruangan tertutup.
Hardiono baru bersedia memberikan keterangan setelah keluar dari ruangan. Jenderal berkumis tebal ini menjawab sedikit soal kasus LP Cebongan Sleman, lalu bercerita mengenai tugas dan jiwa korsa tentara. Seperti biasa, ia cukup antusias. Gayanya tegas, kadang diselingi canda.
Saat meninggalkan Makodam, Hardiono diiringi sejumlah anggota TNI berseragam loreng dan baret hijau. Pangdam yang baru, Mayjen TNI Sunindyo, ikut serta. Sebelum Hardiono naik mobil, momen spesial digelar. Ia mendapat keris.
"Ini adalah keris Diponegoro dan akan diberikan kepada Beliau Bapak Mayor Jendral Hardiono," kata suara dari pengeras suara.
Keris diberikan oleh Sunindyo. Rangkaian bunga dikalungkan ke leher. Hardiono tampak tersenyum. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut.
Sejumlah anggota TNI memanggul Hardiono dan mengaraknya di dekat lapangan. Semua berteriak penuh semangat. Selang 2-3 menit kemudian, ganti Sunindyo yang dipanggul.
Acara berakhir setelah Hardiono yang mengenakan seragam loreng dan baret warna hijau bersiap menuju mobilnya. Pria berkumis tebal yang pernah menjadi Kasdam IV Diponegoro itu meninggalkan bekas markasnya. Ia menjadi Pangdam hanya 9 bulan dan kini dimutasi menjadi staf KSAD. Mutasi ini berdekatan dengan insiden penyerangan LP Cebongan, meskipun TNI AD menyangkal keduanya memiliki kaitan.
(trw/nrl)











































