Masyarakat terpecah belah menyikapi penyerangan Lapas Cebongan, Sleman oleh 11 anggota Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan. Khusus di Yogyakarta, beredar kampanye pembersihan premanisme yang melegalkan pembunuhan tersebut.
Sikap Sultan Hamengkubuwobo X yang dianggap diam atas peristiwa tersebut dipertanyakan.
"Kenapa Sultan itu tidak beraksi apa-apa saat dalam wilayahnya," ujar Sosiolog Thamrin Tamagola di kantor Imparsial di Jalan Slamet Riyadi, Jakarta Timur, Rabu (9/4/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sri Sultan harus bereaksi. Jangan bungkam," kata Thamrin.
Seharusnya, Sultan berkomentar soal isu premanisme dengan pendekatan budaya. Sehingga masyarakat lebih dapat merasakan imbauan tersebut.
"Dia bisa berbicara menghalalkan pembunuhan di laur jalur hukum itu bukan budaya jawa. Untuk menegaskan dia menolak," terangnya.
Pada kesempatan itu, anggota Koalisi Masyarakat Sipil, Khairul Anam meminta Polri untuk segera mengambil alih kasus penyerangan tersebut.
"Kita harus menempatkan kasus ini sebagai serangan terhadap hukum," tegasnya.
(tfq/ndr)











































