HUT ke 67 TNI AU Diwarnai Simulasi Ledakan Anti Teror

- detikNews
Selasa, 09 Apr 2013 10:38 WIB
Foto: Edo/detikcom
Jakarta - Perayaan ulang tahun ke-67 TNI AU berlangsung meriah. Acara ini diwarnai dengan berbagai atraksi antiteror pasukan elite TNI AU yaitu Pasukan Khas (Paskhas).

Atraksi yang dilakukan di Lapangan Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, ini menampilkan simulasi antiteror yang dilakukan oleh Detasemen Bravo yang berjumlah sekitar 70 orang. Atraksi dimulai dengan 20 anggota melakukan terjun payung dari pesawat Hercules. Mereka harus mendarat tepat di atas kapal karet yang ditaruh di lapangan.

Saat mendarat tiba-tiba terjadi ledakan yang diduga bom yang berjarak sekitar 3-5 meter dari perahu karet. Ledakan itu sempat menarik perhatian masyarakat yang menonton sampai-sampai mereka melewati batas penonton.

"Pasukan detasemen ini biasa digunakan untuk penyerangan antiteroris yang biasa digunaan TNI AU," kata Kasubdit Penum TNI AU Kolonel Agung Sasongko Jati kepada detikcom di lokasi, Selasa (9/4/2013).

Simulasi ini difungsikan untuk menjangkau pulau-pulau kecil untuk mencari teroris. Mereka dilatih untuk bisa cepat menemukan target dan melumpuhkannya. Dalam atraksi itu, pasukan detasemen membutuhkan sekitar 15 menit untuk melumpuhkan musuh.

"Biasanya mereka digunakan untuk penghadangan di maritim, darat dan udara. Tadi itu kombinasi serangan ketiganya," ucap Agung.

Usai atraksi ledakan antiteror, kemudian dilanjutkan atraksi 4 pesawat Pegasus. Pesawat buatan Perancis ini bermanuver ekstrem untuk menunjukan kehebatannya. Manuver ini dilakukan untuk simulasi cuaca buruk dan penyelamatan.

Ada tiga aksi yang cukup unik seperti aksi Pegasus solo yaitu pesawat menukik tajam ke atas yang disebut Pegasus Wing Jump, merupakan manuver malalui cuaca buruk. Kedua, Pegasus Kiss yaitu ada 4 pesawat Pegasus yang saling berhadapan seolah-olah mereka saling berciuman dan terakhir atraksi Pegasus Pusaran Angin.

Hadir dalam acara ini Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Ida Bagus Putu, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Wakapolri Irjen Nanan Sukarna dan KSAL Laksamana Marsetyo.


(slm/nrl)