Endriartono Mundur Karena Merasa Dilangkahi
Jumat, 08 Okt 2004 17:48 WIB
Jakarta - Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengundurkan diri karena merasa dilangkahi. Hal ini adalah hal yang wajar, dan sudah merupakan haknya.Hal ini dikatakan pengamat politik Andi Mallarangeng kepada wartawan usai pertemuan SBY dan 100 Pengusaha Indonesia di Intercontinental Hotel Jl Jenderal Sudirman Jakarta Pusat, Jumat (8/10/2004). Tampak hadir dalam acara itu Aburizal Bakrie, Guruh Soekarnoputra, Jacoeb Oetama, Ciputra, Arifin Panigoro dan lain-lain."Itu adalah hak panglima untuk mengundurkan diri karena mungkin merasa dilangkahi. Artinya kenaikan pangkat dua Jenderal tersebut tanpa ada konfirmasi ke TNI," ujarnya.Andi menambahkan, pemberian tanda jasa adalah hal biasa, namun menaikka pangkat seseorang adalah hal luar biasa. "Ketentuan kenaikan pangkat yang sejenis sebenanrnya sudah lama dicabut, dan dalam Undang-undang yang baru tidak memberi peluang untuk menaikkan pangkat seperti itu. Kalau hanya memberikan tanda jasa lainnya masih bisa, tapi bukan memberikan pangkat Jenderal. Dulu pernah terjadi pada zaman Habibie dan Gus Dur," lanjut Andi.Lebih lanjut lagi Andi menilai mundurnya Endriartono adalah satu bentuk kekecewaan. "Pengunduran diri Endriartono ini mungkin semacam bentuk protes terhadap keputusan tersebut, karena Panglima TNI tidak dilibatkan atas keputusan yang diambil Panglima tertinggi," tukasnya."Budaya mundur ini sudah biasa, tidak seperti zaman Soeharto. Tapi orang akan menilai sendiri tentang kemunduran itu dan akan memberikan nuansa kebudayaan politik di Indonesia," demikian Andi.
(dit/)











































