5 Razia Manusiawi ala Ahok Jaring Kupu-kupu Malam Hingga Preman

5 Razia Manusiawi ala Ahok Jaring Kupu-kupu Malam Hingga Preman

- detikNews
Kamis, 04 Apr 2013 09:37 WIB
5 Razia Manusiawi ala Ahok Jaring Kupu-kupu Malam Hingga Preman
Jakarta -

1. Stop PSK Nyempung Kali

Ahok meminta Satpol PP memakai cara-cara simpatik dan manusiawi dalam menangani masalah warga di DKI. Ke depan, tak ada lagi kasus kejar-kejaran warga dengan Satpol PP untuk menertibkan.

"Tidak ada lagi PSK dikejar nyemplung sungai, meninggal. PSK yang nggak laku yang Anda kejar, yang sudah tua," ujar Ahok.

Hal itu disampaikan Ahok dalam sambutannya di acara penekenan komitmen bersama Satpol PP menggandeng 7 Dinas untuk Terapkan Ketertiban Umum, di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (3/4/2013).

7 Dinas tersebut adalah Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kebersihan, Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah dan Perdagangan (KUMKMP), Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B), Dinas Sosial serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar dan PB) DKI.

Baik Dinas Sosial dan Satpol PP diminta membaur dengan masyarakat untuk mengidentifikasi masalah.

"Datanglah jangan pakai seragam, kenali masalahnya. Syukur-syukur ada bujang yang mau menikahi mantan PSK," imbuh Ahok yang disambut tawa para hadirin.

"Loh ini pahalanya besar lho. Lebih baik menikahi mantan PSK daripada mantan pendeta," imbuhnya.

2. Operasi Tangkap 'Anjal' Bahaya

Ahok memastikan tidak ada lagi razia terhadap anak jalanan (anjal). Ahok akan memfungsikan RT dan RW untuk mengatasi persoalan ini.

"Jangan ada razia tangkap kayak gitu. Saya nggak mau ada lagi operasi-operasi tangkap tangan seperti itu. Nanti anak-anak malah pada kecelakaan. Pendekatan saja nanti ketahuan kok, nanti kita fungsikan RT-RW lebih baik," ujar Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (4/1/2013).

Solusinya, menurut mantan bupati Belitung Timur ini, harus ada kerjasama antar daerah. Ahok mengakui saat ini memang masih ada perbedaan pandangan dengan Kementerian Sosial terkait penanganan anak jalanan.

"Pak Gubernurlah yang lebih pintar begituan," ujarnya.

3. Razia Sopir Malas Tangkal Kriminalitas

Ahok telah mengupayakan mengurangi kriminalitas di angkot dengan menggelar razia. Namun razia belum cukup efektif untuk menghapus angka kriminalitas tersebut.

"Kita sudah sering razia, tapi tetap ada. Sopir itu sering titip ke anak buah, titip teman. Sopirnya yang malas," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (11/2/2013).

Ahok juga mengatakan Pemprov DKI berencana mengadakan tiket langganan bagi pengguna angkot. Tiket tersebut nantinya dapat digunakan juga untuk parkir motor.

"Kita bisa bikin tiket PP hanya Rp 250 ribu sebulan. Anda bisa bebas naik bus," ujarnya.

Pemprov DKI Jakarta juga berupaya untuk mengatur operasi angkutan umum di Jakarta. Salah satunya dengan rencana menghapus jenis angkutan umum mobil kecil. Sebagai penggantinya, Pemprov DKI akan menyiapkan sekitar 1.000 unit bus feeder. Penghapusan angkot jenis ini akan direalisasikan jika bus-bus tersebut telah tercukupi. Bus ini nantinya akan beroperasi secara terukur dan terintegrasi.

"Kita tawarkan gaji sopir 3,5 kali UMP (Upah minimum provinsi-red). Jadi sopir baik dan benar akan pindah. Jadi kalau ada bus yang terukur dan terintegrasi, orang nggak mau naik angkot lagi. Kalau nggak lolos, angkot Kopaja juga kita singkirkan," tuturnya.

Selain itu, Ahok ingin sopir-sopir tembak dibina menjadi sopir taksi.

4. Pekerjaan untuk Sang Preman

Membuka lapangan kerja. Itulah salah satu solusi Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatasi premanisme. Karena itulah Ahok membangun banyak pasar.

"Lawan premanisme dengan pekerjaan. Makanya kita bangun banyak pasar agar orang bisa banyak kerja. Semua orang nggak akan mau jadi tukang nodong kok," kata Ahok saat ditanya cara mengatasi premanisme, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2013).

Ahok berpendapat pemberantasan premanisme, termasuk kelompok Hercules, merupakan wewenang kepolisian.

"Itu urusan kepolisian. Kita nggak bisa (menertibkan premanisme), bukan wilayah kita," ujar Ahok.

Sejauh ini Satpol PP kerjanya gimana? "Sejauh ini untuk menertibkan (premanisme), kita tidak pakai Satpol PP," katanya.

Berdasar aturan Pemprov, tugas Satpol antara lain menertibkan bangunan ilegal. "Orang udah tahu salahnya juga, maklum kan. Kita tertibkan aja," jawab Ahok.

5. Ngomong Baik-baik Jangan Gebuk

Ahok berharap Satpol PP DKI Jakarta bisa menjadi pengayom bagi warga Ibukota. Satpol PP diminta mengedepankan cara persuasif ketimbang kekerasan.

Menurut Ahok, sejak kepemimpinan gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), kini petugas Satpol PP tidak lagi dilengkapi dengan sangkur (pisau) dan pentungan.

"Saya kira ini sudah dibawa dari Solo. Di Solo itu kalau tidak salah Kepala Satpol PP-nya perempuan," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (30/10/2012).

Menurut Ahok, Satpol PP itu seharusnya tidak menggunakan alat yang bisa digunakan untuk kekerasan.

"Sebetulnya Satpol PP itu kan pengayom, jadi jangan pakai pentunganlah," katanya.

Ahok pun berharap jika ada upaya penindakan, petugas Satpol PP harus mengedepankan cara persuasif.

"Ngomong baik-baik kan bisa, orang pasti ngerti, karena orang punya hati nurani, punya mata, telinga, bisa diajak ngomong juga. Jadi hati-hati lah, jangan sampai gebuk-gubuk," ujar dia.


Halaman 2 dari 6
(aan/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads