SBY Harus Perkuat Internal Kelautan dan Perikanan
Jumat, 08 Okt 2004 00:00 WIB
Jakarta - Sebagaimana bidang-bidang lain, kelautan dan perikanan juga harus diperhatikan. Pemerintah baru di bawah presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono harus memperkuat aspek internal agar ada perbaikan.Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri di sela-sela Seminar Nasional Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir Terpadu dan peluncuran Canadian Alumni In Indonesia di Magister Manajemen Undip, Jl. Imam Bardjo Semarang, Kamis(07/10/2004).Dikatakan Rokhmin, program internal itu diantaranya adalah pertumbuhan ekonomi di bidang kelautan, peningkatan kesejahteraan para nelayan. Pertumbuhan kesejahteraan ekonomi bisa dilakukan jika kabinet SBY mau melakukan perbaikan beberapa instansi terkait."Sebab, hingga saat ini belum terjadinya koordinasi yang baik antarainstansi diantaranya instansi pariwisata, perhubungan dan pertambangan. Akibatnya, tidak ada pertanggungjawaban terhadap kondisi kelautan dan perikanan," terangnya.Lebih lanjut Rokhmin mengatakan, pemerontahan SBY juga harus melakukan peningkatan dunia perikanan dengan cara budi daya perikanan. Hal ini harus disertai target yang jelas."Misalnya, targetnya produksinya sepertiga dari beberapa negara penghasil ikan terbesar seperti Thailand dan Malaysia.Untuk itu kebijakan pemerintah yang berpihak kepada para petani sangat dibutuhkan," paparnya.Rokhmin mencontohkan, pemerintah harus bisa mengusahakan kredit dengan bunga murah bagi nelayan. Bukan malah menghambat kredit dengan alasan kasus persen kredit UKM macet dan yang cair hanya 9 persen.Rokhmin mengharapkan, SBY-JK bisa meniru langkah Presiden Thailand dan Malaysia, dimana kebijakan Presiden Thailand, Takhsin berpihak kepada rakyat. Mengakibatkan kemajuang pesat dibidang perikanan di negara tersebut."Kalau masalah kebijakan eksternal, kebijakan di bidang kelautan sudah terbilang vokal di mata Internasional. Masalah-masalah seperti fishing illegal, penjagaan zona dengan negara lain, kita sudah sangat diperhitungkan," demikian Rokhmin Dahuri.
(gtp/)











































