Tandingi Muktamar, Warga NU Akan Gelar Mubes

Tandingi Muktamar, Warga NU Akan Gelar Mubes

- detikNews
Rabu, 06 Okt 2004 20:28 WIB
Yogyakarta - Untuk menandingi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar akhir tahun ini, komite warga NU akan menggelar Musyawarah Besar (mubes) warga Nu. Mubes tersebut akan dilangsungkan pada hari Jumat-Minggu (8-10/10/2004) mendatang, di Ponpes Miftahul Muta'allimin, Babakan Ciwaringi, Cirebon, Jawa Barat."Mubes ini perlu dilakukan karena warga NU memandang perlu melakukan penyelamatan NU yang telah mengalami demoralisasi akibat pilpres kemarin."Demikian dikatakan oleh KH Shofiyullah MZ atau Gus Shofi, selaku penasehat mubes kepada wartawan, di Islamic Center, Ringroad Utara Yogyakarta, Rabu (6/10/2004). Gus Shofi tidak menolak jika mubes warga NU di Cirebon besok dikatakan sebagai forum tandingan muktamar NU mendatang.Menurutnya, Warga NU melakukan hal ini didasari pertimbangan ingin menyelamatkan NU karena telah direduksi sebagian elit di NU sehingga menjadi sebuah mesin politik bukan lagi ormas keagamaan dan gerakan kultural."Terserah mau dimaknai apa. Namun kalau kegiatan ini kemudian ada yang kebakaran jenggot, hal itu adalah realitas tuntutan warga NU. Kita tetap dalam koridor agama, namun ini jelas sebagai presure moral saja dan tidak secara struktural," tegas dia.Shofi mengatakan, kegiatan ini bukan sebagai gertak sambal saja dan tidak akan ada intimidasi atau intervensi pihak luar. Warga Nu yang akan hadir berasal dari berbagai korwil di Jawa maupun luar Jawa terutama wakil dari kalangan pesantren, kelompok petani, akademisi, pemuda, mahasiswa dan kelompok difabel (penyandang cacat)."Tidak ada funding atau sponsor, dasarnya hanya niat saja. Kegiatan ini sebagai upaya untuk saling mengingatkan. Ini bukan move politik, tapi kita tetap dalam koridor NU yakni ingin memberi taushiyah dan bukan untuk kepentingan kelompok," katanya.Hal senada juga dikatakan oleh pengasuh Ponpes Salafiyah Mlangi Sleman, KH Hasan Abdullah bahwa banyak agenda NU yang terbengkelai dan tidak tergarap, padahal ribuan pesantren milik NU itu butuh perhatian serius.NU gagal melakukan konsolidasi dengan warganya akibat adanya dorongan syahwat politik yang besar dan NU boleh dikatakan mandul. "NU ke depan harus melakukan pembenahan ke dalam. Bukan membicarakan jatah menteri, gubernur, bupati atau rebutan HPH," kata Abdullah. (fab/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads