"Daripada nanti kita jadi gigolo," kata Rohman (31), penjaga parkir liar di kawasan Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, saat ditemui, Kamis (21/3/2013).
Tak ada setoran kepada petugas secara resmi. Malah yang ada beberapa oknum kerap meminta kutipan atau uang rokok. Alhasil setoran ilegal juga muncul dari parkir ilegal.
"Jumlah motor per hari itu bisa hampir 4.000 motor," jelas Rohman yang sudah berhasil membeli motor dan menafkahi anak istrinya dari menjaga lahan parkir ini.
Rohman tidak sendiri. Dalam satu hari ada dua shift. 1 Shift dijaga dua orang, uang hasil parkir diserahkan ke pengurus warga setempat. Tarif parkir Rp 4 ribu dengan lama sesuka hati. Soal keamanan, bisa dipertanggungjawabkan.
"Kadang ada yang suka pada pakai perasaan, mau kasih lebih buat kita yang jaga," imbuhnya.
Dia juga memberi karcis kepada para pemotor yang menitipkan motor. Pelanggannya mulai dari karyawan sampai konsumen mal. Mereka memilih parkir di jalan, karena parkir resmi tarifnya mahal, Rp 2 ribu tiap 1 jam.
"Di dalam per jam Rp 2.000, mending di luar, Rp 4.000, lamanya terserah dia, 24 jam ya segitu. Ada juga yang jadi memberi Rp 200 ribu sebulan," jelasnya.
Bila ada profesi lain yang lebih baik, mungkin Rohman ingin memilihnya. Tapi, bagi dia menjaga parkir ini sudah membuatnya bersyukur. Apalagi mencari kerja di Jakarta amat sulit, terlebih bagi yang tak punya keahlian apa-apa seperti dirinya.
"Yang penting kita kerja setiap hari buat makan," tutupnya.
(ndr/nrl)











































