Penghuni Rusun Kebon Kacang, dari Tukang Ojek Hingga Pengusaha

Penghuni Rusun Kebon Kacang, dari Tukang Ojek Hingga Pengusaha

- detikNews
Kamis, 21 Mar 2013 10:00 WIB
Penghuni Rusun Kebon Kacang, dari Tukang Ojek Hingga Pengusaha
Foto: Syarifah/detikcom
Jakarta - Para penghuni rusun Kebon Kacang di Tanah Abang, Jakarta Pusat, bervariasi. Ada yang berprofesi sebagai tukang ojek, hingga pengusaha mobil yang mengendarai mobil Jaguar.

Latar belakang suku para penghuni pun berbeda-beda. Ada orang Betawi, Jawa, Sunda, Batak, hingga Makassar di rumah susun yang dibangun sekitar 28 tahun lalu itu.

"Iya, kalau cari dari Sabang sampai Merauke, ada di sini. Ada karyawan, ada pedagang, dari yang ekonomi paling bawah sampai ekonomi paling atas. Yang teratas, punya usaha," kata Roni Fathurrahman (39), Ketua RT 6, Blok 3, saat ditemui detikcom, Kamis (21/3/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Roni, pendatang baru biasanya berprofesi sebagai karyawan kantor hingga pengusaha. Mereka menempati sebagian besar blok rusun. Penghuni lama, bermukim di Blok 3, 4, dan 8, bekerja sebagai pedagang hingga tukang ojek.

"Dengan pendatang baru sepertinya tidak ada masalah. Pendatang cukup bisa berbaur dengan masyarakat lama. Yang ekonominya menengah ke bawah rata-rata memang warga lama. Kalau yang blok ada pendatang, memang macam-macam. Tapi, kita tidak peduli yang kaya begitu, selama dia masih bisa bermasyarakat," ujar Roni yang sejak lahir tinggal di Kebon Kacang.

Di RSKK, warga pendatang dan warga lama saling mengenal satu sama lain. Mereka biasa berkumpul di aula dekat masjid, dalam wadah Perhimpunan Penghuni (PP) dan Komite Perlindungan Hak Warga. Pendatang baru harus diwawancara dulu sebelum tinggal di rusun.

"Di sini ketat kalau siapa mau tinggal. Kita minta KTP, kita tanya segala macam karena itu memang prosedurnya. Kita juga dapat imbauan dari kelurahan, kecamatan, agar hati-hati. Apalagi waktu ramai teroris, kita juga di lingkungan, sebagai ketua RT, harus hati-hati. Kalau ada apa-apa kita juga yang kena," jelasnya.

Menurut Pria Betawi ini, RSKK adalah kampung besar berisi miniatur Indonesia. Meski tinggal di dekat pusat kota, Roni merasa ia tetap warga kampung.

"Kita tidak pernah merasa bahwa kita nih jadi orang kota yang acuh, yang masing-masing. Tetap saja kita ini orang kampung, tidak gaya hidup yang gimana-gimana. Orang kampung harus guyub," ujar Roni.

(mad/mad)


Berita Terkait