Diduga Akibat Flu Burung, Harga Ayam Potong Semarang Turun
Selasa, 05 Okt 2004 15:58 WIB
Semarang - Wabah flu burung yang kembali terjadi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, diperkirakan berefek buruk pada pasar ayam. Di Semarang, harga ayam potong (broiler) turun dalam sepekan terakhir dan volume penjualannya pun kelihatan agak sepi.Menurut pantauan detikcom, penurunan harga tersebut terjadi cukup drastis. Setelah dalam pekan sebelumnya harganya selalu tetap di kisaran Rp 13.000 hingga Rp 14.500 per kilogram, tapi kini harganya menyentuh angka RP 11.000 per kilogram.Sejumlah pedagang membantah turunnya harga dan sepinya penjualan ayam potong tersebut disebabkan flu burung. "Belakangan ini harga ayam memang turun. Namun itu disebabkan karena stok ayam dewasa atau siap potong di kandang melimpah. Sementara itu pasaran sedang sepi sehingga harga ayam turun," ujar seorang pedagang ayam di Pasar Peterongan Semarang, Sudarno di kiosnya, Selasa (5/10/2004).Sudarno tahu persis kalau wabah flu burung kembali terjadi di Grobogan. Dia mengaku bersama pedagang serta peternak ayam potong masih merasakan trauma atas wabah flu burung tersebut yang terjadi tahun lalu."Ayam yang terserang flu burung sekarang ini hanya ayam yang berada di kandang. Saya pastikan ayam yang saya jual tidak terserang penyakit itu," katanya meyakinkan.Sepinya penjualan ayam juga dialami para pedagang makanan olahan berbahan dasar ayam. Pemilik counter makanan steak Kusumawati mengatakan, pihaknya mengalami penurunan penjualan pada jenis steak yang berbahan ayam seperti misalnya chicken steak."Mereka lebih memilih steak yang berbahan daging sapi (beef steak). Padahal biasanya kedua jenis itu, beef dan chicken steak sama larisnya. Bahkan sering lebih laku chicken steak. Tapi akhir-akhir ini pembeli lebih sering memilih beef steak," katanya panjang lebar.Wanita paruh baya itu menduga hal itu berkaitan dengan wabah flu burung yang diberitakan kembali terjadi di Jawa Tengah. Apalagi sebelumnya banyak dikabarkan kalau virus tersebut juga sudah berjangkit di sejumlah negara. Akibatnya, para pencinta makanan berbahan dasar ayam di Semarang lebih menahan diri untuk membeli.
(nrl/)











































