Prosesi dimulai dengan mengarak sesaji dan persembahan dari Bangsal Cepuri sekitar 300 meter menuju pantai Parangkusumo. Sesaji berupa buah dan olahan ayam utuh itu ditata rapi pada meja panjang beralas kain kuning.
Ada pula uang beragam pecahan diletakkan diatas sesaji yang ditempatkan pada kotak-kotak bambu aneka motif. Sementara bunyi rencak gamelan khas Bali membelah barisan umat yang rata-rata mengenakan pakaian tradisional Pulau Dewata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesuai namanya, Melasti yang berarti pensucian diri dengan tirta diawali dengan mengambil air dari samudra. Belasan Padande atau pemuka agama berpakaian putih-putih berjalan menuju bibir pantai untuk mengambil air suci dengan bejana kuning sebesar bola sepak.
Air laut lalu dimasukkan dalam gentong kecil yang berisi air dari tiga sumber mata air. Air inilah sarana prosesi pensucian diri yang dilakukan dengan menciprat-cipratkan diatas kepala seluruh umat yang hadir.
Dalam kepercayaan umat Hindu, air murni yang diambil dari alam akan mensucikan jiwa raga manusia dan pembersihan diri dari sifat buruk dan nafsu hewani.
"Manusia perlu mensucikan diri agar terhindar dari sifat-sifat buruk. Melasti juga sebagai sarana introspeksi diri atas apa yang sudah dilakukan sehingga kedepan bisa lebih baik lagi", kata ketua panitia, Gede Bayu Suparta.
Dipimpin Ida Ratu Begawan Manuaba yang duduk dipanggung kecil tepat di depan umat yang hadir, upacara Melasti di Pantai Parangkusumo berlangsung hidmat. Bunyi lonceng kecil di tangan Begawan bersahutan dengan doa berupa mantra yang dipanjatkan kepada Sang Hyang Widi Wasa.
Usai ritual, sebagian sesaji yang tertata di meja diusung ke pinggir pantai untuk dilarung ke laut. Prosesi larung sesaji ini sebagian simbol kerelaan untuk meninggalkan hal-hal keduniawian dan sarana membersihkan diri.
Saat ombak datang, sesaji dilempar ke laut meski hanya dalam hitungan menit, bermacam barang ini sudah berpindah ke tangan-tangan warga yang sengaja datang untuk berburu barang sesaji.
Ayam, anggur, pisang bahkan uang lembaran lima puluh ribu rupiah menjadi rebutan puluhan warga yang sebelumnya sudah menunggu.Hanya rontokan bunga Mawar dan keranjang-keranjang rusak yang dibiarkan terdampar di bibir pantai.
(/)
