Faridah Abdullah Diancam Diculik

Skandal Seks KJRI New York

Faridah Abdullah Diancam Diculik

- detikNews
Selasa, 05 Okt 2004 12:10 WIB
Jakarta - Bagaimana perawakan Faridah Abdullah, perempuan yang mengungkapkan bahwa dia melayani 41 WNI di New York, termasuk pejabat KJRI setempat? Wajahnya mungil dan manis.Itulah yang ditulis majalah mingguan Tempo edisi 4-10 Oktober, yang berhasil menjumpai Faridah di New York, menyusul terbongkarnya skandal seks yang mengguncang KJRI dan sejumlah tokoh gereja di New York."Mereka mengancam mau menculik saya," kata Faridah dalam artikel bertajuk Ketika Faridah Mampir ke New York di halaman 46-47. Yang dimaksud "mereka" diduga adalah orang-orang yang diadukannya ke penegak hukum karena skandal yang dibongkarnya itu. Dalam pernyataan tertulis Faridah yang diteken juga oleh notaris negara bagian New York, Faridah menyebutkan 41 nama yang pernah bersebadan dengannya."Mereka bisa mengupah siapa saja, kok," sambung Faridah yang selalu kalut bila bertemu orang berwajah Melayu.Perempuan yang akrab disapa Ida itu lalu berkisah tentang upaya penculikan dirinya. Teror terakhir diterimanya pada malam 20 September lalu, tatkala majikannya tidak di rumah. Dua orang laki-laki lalu lalang terus di depan rumah sambil tak henti-hentinya memanggilnya. "Ida, ayo keluar. Kamu tidak bersalah," kata Ida menirukan pengancamnya.Lalu, bagaimana ceritanya sehingga perempuan asal Sumbawa yang hanya tamatan SD itu bisa berlabuh ke Paman Sam? Alkisah, karena kondisi ekonomi yang buruk dan kecewa pada suami yang tidak bertanggung jawab, Ida berangkat ke Arab Saudi pada 2001 sebagai PRT di rumah keluarga Samih al-Khadra di Jeddah. Majikannya ramah dan penuh perhatian.Setahun kemudian, ketika anak perempuan majikannya, Eman al-Khadra, yang tinggal di Boston-AS melahirkan, Ida dikirim ke Boston. Bukannya perbaikan nasib yang diterima, aniaya dan kekerasanlah yang menjadi "menu" Ida sehari-hari. Dia sering ditampar dan dipukul. Tidur juga di atas lantai. Gaji 300 dolar per bulan tak pernah dibayar penuh.Empat bulan menanggung derita, Ida tak tahan. Dia minta pulang. Majikan menjawab, tidak ada duit. Karena kalut, Ida pun nekat. Dia kabur.Pada Desember 2002, di Boston diterjang musim dingin yang hebat. Ida keleleran. Seorang wanita bernama Fiora Houghtelling menemukan dan membawanya pulang ke rumahnya.Setelah kondisi Ida pulih, Fiora menelepon KJRI di New York, diterima oleh staf konsulat bernama Pinna Silaen. Pinna lalu membawa Ida ke rumah adik iparnya, Kris Karto yang kebetulan butuh pembantu. Ida lalu bekerja pada keluarga Kris Karto.Janji DikawiniSeminggu bekerja di situ, Ida jatuh cinta kepada James Stover, tetangga majikannya. Cinta itu disambut hangat James, yang bahkan berjanji mengawini Ida. Tapi Jameslah awal derita Ida. James mau mengawani Ida dengan syarat berat: Ida harus melayani orang lain dengan bayaran. "Saya pasrah saja karena dijanjikan kawin," kata Ida.James dan rekannya, David Stover, menjadi calo dan bertugas mencari pelanggan asal AS. Calo lainnya adalah Sahat Simanjuntak dan Robert Silaen dari Indonesia yang bertugas mencari pelanggan kalangan orang Indonesia. Robert pula yang menurut kisah Ida membawa pejabat dari KJRI pada sekitar Maret 2003 dan meminta pelayanannya.Akhirnya, Ida sadar bahwa dia ditipu. Uang hasil transaksi yang menurut dia berjumlah 20 ribu dolar (dalam pengakuan tertulis Ida pada 6 Agustus yang diterima detikcom, tertulis 200 ribu dolar-red), tak ada sepeser pun yang diterimanya. Padahal sekali "narik", Ida dapat bayaran 200 dolar.Kasus ini sudah dilaporkan majikan Ida, Kris Karto, ke polisi dan sekarang sedang ditangani jaksa penuntut Distrik Queen County, Tara Choclin. Tara membenarkan tengah menangani kasus itu.Sementara, Sahat Simanjuntak dan Robert Silaen yang tak lain kakak ipar Kris Karto, menyangkal cerita Ida. Robert bahkan ganti menuduh Kris Karto sengaja meniup-niup cerita itu demi kepentingan materi. "Saya tahu, dia sedang punya persoalan keuangan," kata Robert. KJRI juga menyangkal cerita Ida.Ida menyesalkan bantahan KJRI itu. "Seharusnya Konjen menolong saya pulang ke Indonesia," kata Ida, yang mengaku sudah sangat merindukan anaknya di Sumbawa.Kris Karto juga berang dituduh terkait skandal itu. Menurutnya, dia melaporkan ke polisi karena kasus itu telah memalukan keluarganya.Sekadar diketahui, dari Jakarta, Deplu RI tetap berpegang pada bantahan yang disampaikan KJRI. Sedangkan Menlu Hassan Wirajuda akan memverifikasi kebenaran kabar itu. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads