Dalam gambar tersebut terlihat para teroris yang diduga dianiaya oleh Brimob Polda Sulteng nampak bertelanjang dada. Ada pula kalimat yang terlontar dari mulut salah seorang personel kepada teroris yang tengah terluka, yaitu ucapan agar teroris tersebut berdoa untuk menanti ajalnya.
Karo Penmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan pihaknya akan megusut personel yang melontarkan kalimat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teroris yang diduga dianiaya dan terluka tersebut adalah Wiwin Kalahi. Wiwin, kata Boy, saat ini dalam keadaan sehat. Dia menampik pihaknya tidak segera menolong Wiwin yang dalam video tersebut luka karena tembakan aparat.
"Waktu itu langsung diberikan perawatan, dan dia sehat kembali sekarang, dan menjalani proses pidana di Lapas di Sulteng," terangnya.
Berdasarkan analisa IT Mabes Polri, video yang diserahkan Din Syamsuddin ke Kapolri Jenderal Timur Pradopo tersebut adalah kasus pengungkapan kepolisian terkait 3 korban mutilasi pelajar SMK di Poso 2005 lalu. Tercatat, video tersebut direkan tanggal 22 Januari 2007.
Sebelum penangkapan dilakukan, jelas Boy, terjadi baku tembak antara aparat Brimob Polda Sulteng dan menelan korban tewas dari kubu aparat bernama Briptu Rony.
"Selain itu ada 5 polisi yang luka tembak dari kelompok Wiwin," katanya.
Usai menangkap Wiwin dan enam kelompoknya, aparat menemukan 200 senjata api jenis M16 dan MK3. "Senjata-senjata tersebut diduga dibawa dari Filipina, yang juga pernah terjadi proses perampasan senjata api yang diambil oleh kelompok-kelompok jaringan teror di Maluku, hilang dan ditemukan di sana," jelas Boy.
Boy tidak menampik bila saat disinggung Wiwin berafiliasi dengan kelompok teror pimpinan Upik Lawanga yang hingga kini buron.
"Dia salah satunya kelompok dari Upik Lawanga," kata Boy.
Terkait dengan pelaku teror yang bertelanjang dada saat diduga dianiaya aparat, Boy menjawab, langkah tersebut adalah untuk memastikan para pelaku tidak membawa bahan peledak, senjata api, atau pun senjata tajam.
"Dari prosedur, untuk mereka yang ditangkap harus dibuka baju, jangan sampai disimpan bahan peledak. Jadi memang dilakukan upaya ketat," ujar Boy.
Disinggung mengenai pihak yang merekam aksi dugaan kekerasan aparat terhadap teroris, Boy mengatakan pihaknya masih fokus terhadap tudingan yang dilayangkan Din Syamsuddin.
"Mudah-mudahan menjadi bagian yang perlu diketahui dulu, tapi fokusnya tidak terlalu penting. Yang penting mencari substansi yang menjadi masalah yang diadukan itu yang paling tepat," tutur Boy.
Sepekan sebelum Din menyampaikan video tentang dugaan kekerasan aparat terhadap pelaku teroris, Wakil Ketua Komisi III DPR Almuzzammil Yusuf, Jumat (15/2), mencuatkan rencana untuk membentuk Panja pengawasan Densus 88.
(ahy/mad)











































