Anas Urbaningrum beranggapan kasus hukum yang menderanya merupakan risiko politik. Sejak terjun masuk ke politik dia mengaku sudah siap dengan segala tantangan.
"Iya, pasti. Sejak awal masuk, saya sadar politik itu intrik, kadang fitnah, sadis. Ini risiko masuk dunia politik. Dunia politik kadang risikonya lebih tajam. Bukan berarti dunia lain tanpa risiko," jelas Anas saat diwawancarai Harian Detik, Senin (4/3/2013) dinihari.
Anas kemudian bicara soal masa depan dia di politik. Menurut dia, politik praktis itu lewat partai. Politik untuk kepentingan luas dilakukan untuk kepentingan publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anas menerima wawancara tim Harian Detik di ruang tamu rumahnya. Anas memakai peci dan kemeja putih. Anas sesekali melirik TV berita yang ada di ruangan itu. Sejumlah tamu masih menunggunya untuk bertemu.
Anas kemudian berbicara soal langkahnya yang berhenti dari Partai Demokrat. Yang menarik, Anas punya alasan mengapa dia tak mengirim surat pemberhentian ke petinggi Demokrat.
"Saya berhenti, ya sudah saya berhenti. Kalau saya menulis surat mundur, saya tujukan ke siapa Majelis Tinggi kan tidak ada kewenangannya, Dewan Pembina juga. Saya dipilih oleh kongres. Ketua Dewan Pembina dan Ketua Umum Partai dipilih lewat kongres. Berhenti itu, saya rasa sudah cukup untuk menjelaskan semuanya," urainya.
Wawancara dengan Anas Urbaningrum selengkapnya bisa disimak di Harian Detik edisi Selasa 5 Maret 2013.
(ndr/nrl)











































