Kasus Pencabulan Timbulkan Pertanyaan Kualitas Pendidikan di Jakarta

Kasus Pencabulan Timbulkan Pertanyaan Kualitas Pendidikan di Jakarta

Prins David Saut - detikNews
Minggu, 03 Mar 2013 09:58 WIB
Jakarta - Eks Wakepsek di sekolah menengah atas di Jakarta Timur dilaporkan siswinya atas dugaan perbuatan asusila. Kasus ini mendapat perhatian dari masyarakat secara serius karena terjadi dalam lingkungan yang seharusnya membangun karakter penerus bangsa.

"Sekolah itu membangun karakter, jadi guru harus membangun karakter. Guru itu kan kualitasnya juga harusdipertanyakan kualitas moralnya. Kalau zaman dulu, guru adalah orang yang harus kita hormati, tapi sekarang guru dan murid itu sudah yang hubungan dekat secara personal, harusnya ada jarak status," kata sosiolog dari Universitas Indonesia, Linda Darmajanti, pada detikcom, Minggu (3/3/2013).

Berkaca pada kasus yang kini diproses di Polda Metro Jaya tersebut, guru pada umumnya harus seiya dan sekata dengan perbuatan. Sehingga profesi ini dapat dengan layak disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi posisi status sosial jadi guru kehilangan kepercayaan, karena tidak bisa memenuhi kepercayaan masyarakat. Role guru itu penting, jadi moral kita tidak menurun. Banyak posisi penting yang harusnya bangun karakter bangsa tidak sesuai dengan yang kita harapkan," pungkas wanita kelahiran Medan ini.

Kasus yang menimpa siswi di Jakarta Timur tersebut masih masuk dalam lingkungan sekolah karena modus yang dilakukan sang mantan wakepsek bernama T memanfaatkan kegiatan belajar mengajar. Hal ini menambah panjang permasalahan kekerasan yang terjadi di lingkungan yang seharusnya sangat melindungi para penerus bangsa.

"Selain krisis moral, sekolah sebagai institusi juga ternodai dengan bullying dan pelecehan. Homeschooling juga tidak membangun karakter, sekarang terjadi distrust. Jangan-jangan sekolah sudah tidak melakukan fungsinya sesuai harapan masyarakat," tutup Linda.

Seperti yang diketahui, T yang juga mengajar pelajaran Biologi dilaporkan mencabuli siswinya dengan menyuruhnya melakukan oral seks dengan ancaman nilai buruk. Siswi tersebut lalu melaporkan ke keluarganya dan pada November 2012 siswi tersebut melapor ke guru BK.

Menurut penuturan keluarga, siswa kelas XII tersebut dicabuli saat masih kelas XI. Kejadian itu terjadi di mobil wakil kepsek dengan alasan akan membahas kegiatan ekstrakurikuler.

Namun menurut pengakuan sang siswi , ternyata tindakan bejat sang oknum guru dilakukan berkali-kali. Oknum guru tersebut terus memaksa siswi tersebut untuk memuaskannya, dengan ancaman diberi nilai buruk jika melawan.

(vid/rvk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini