Dubes: Pengalaman Indonesia, Sikap Moderat Tangkal Radikalisme

Laporan dari Brussel

Dubes: Pengalaman Indonesia, Sikap Moderat Tangkal Radikalisme

Eddi Santosa - detikNews
Kamis, 28 Feb 2013 23:51 WIB
Dubes: Pengalaman Indonesia, Sikap Moderat Tangkal Radikalisme
dok. KBRI Brussel
Brussel -

Pengalaman Indonesia membuktikan bahwa nilai-nilai moderasi yang disuarakan oleh para tokoh agama Islam moderat memberikan kontribusi besar dalam menangkal radikalisme di Indonesia.

Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia, Keharyapatihan Luksemburg dan Uni Eropa Arif Havas Oegroseno sebagai pembicara dalam konferensi Islam and Europe: Politicization and Integration, yang diselenggarakan oleh Hans Seidel Stiftung di Goethe Institute Brussel.

"Termasuk akademisi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia yang memiliki pandangan moderat," ujar Dubes melalui Sekretaris II Penerangan, Sosial Budaya dan Diplomasi Publik Diyah R. Agustini, Kamis (28/2/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sambil menjelaskan, Dubes menunjukkan buku The Illusion of an Islamic State, yang dipublikasikan oleh Wahid Institute, Maarif Institute dan Libforall Foundation. Buku ini merupakan hasil penelitian dari think tank terkemuka di Indonesia dan luar negeri, yang mengedepankan aspek akademik dan teologi.

Menurut Dubes, keluarnya Indonesia dari krisis politik dan ekonomi dalam waktu relatif singkat, dan dengan stature Indonesia saat ini, menunjukkan bahwa Islam sesungguhnya kompatibel dengan modernisasi, demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Lanjut Dubes, keberadaan ratusan forum kerukunan umat beragama, yang terdiri dari pemimpin umat beragama di seluruh pelosok Indonesia, serta dua organisasi berbasiskan Islam seperti NU dan Muhammadiyah, merupakan karakteristik masyarakat mayoritas Muslim yang hanya ada di Indonesia.

"Namun terbukti memberikan dampak positif dari upaya Indonesia menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia," tandas Dubes.

Namun demikian, Dubes juga mengakui bahwa sebagaimana negara-negara majemuk lainnya di dunia, Indonesia tidak sepenuhnya luput dari masalah yang kadang terjadi antar umat beragama dan berbudaya.

"Justru di era globalisasi teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini tantangannya semakin besar," pungkas Dubes.

Senada dengan Dubes, Prof. Dr. Christine Schirrmacher, seorang akademisi dari Universitas Bonn (Jerman) dan Universitas Leuven (Belgia) sebelumnya menyampaikan bahwa kini sudah saatnya dipikirkan agar masyarakat Eropa siap berdiskusi dengan masyarakat Muslim dengan pendekatan teologi, bukan sekularisme.

Terkesan arogan apabila masyarakat Eropa beranggapan bahwa masyarakat Muslim di Eropa harus sepenuhnya berubah menjadi seperti kita (Europeans)," demikian Prof. Schirrmacher.

Sementara itu General Manager dari European Muslim Network, Malika Hamidi menilai bahwa Eropa selalu hanya menyoroti sisi negatif Muslim di Eropa. Sudah saatnya masyarakat Eropa melihat bahwa kontribusi Muslim di Eropa nyata dan signifikan.

Situasi ini terjadi karena media di manapun tidak pernah tertarik untuk mengamati perkembangan positif tersebut. Bahkan kampanye yang dilakukan European Muslim Network hampir jarang diliput oleh media di Eropa," papar Hamidi.

Adapun Prof. Dr. Michael Kohler dari Komisi Eropa mengemukakan bahwa Muslim di Eropa terbukti telah menciptakan ketakutan dari masyarakat Eropa, meskipun jumlahnya di UE hanya 19 Juta atau kurang dari 4% dari populasi UE yang berjumlah lebih dari 500 Juta.

"Transformasi demokrasi di negara tetangga seperti Tunisia juga menciptakan kekhawatiran masyarakat Eropa akan timbulnya partai politik yang berlandaskan Islam garis keras, dan akibatnya berimbas ke Eropa," imbuh Prof. Kohler.

Konferensi yang berlangsung pada Selasa (26/2/2013) ditutup dengan tetap menekankan perlunya dialog dengan masyarakat Muslim dilakukan oleh para tokoh agama Islam yang mampu mengangkat nilai-nilai moderasi Islam, dan diharapkan dapat menangkal radikalisme, serta menciptakan rasa saling memahami dan menghargai di antara sesama komunitas beragama.

Selain itu konferensi juga memahami bahwa masalah mendasar yang dihadapi oleh masyarakat Muslim di UE sekarang lebih dihadapkan pada masalah imigrasi, adaptasi sosial, kesenjangan ekonomi dan budaya

Konferensi ini diikuti oleh ratusan peserta antara lain dari kalangan akademisi, think tank dan wakil dari berbagai institusi di UE yang bergerak dalam bidang politik, pertahanan keamanan, dan HAM.

(es/es)


Berita Terkait