Dirut RSCM: Pasien KJS Melonjak Sampai 60 Persen

Dirut RSCM: Pasien KJS Melonjak Sampai 60 Persen

Mulya Nurbilkis - detikNews
Rabu, 27 Feb 2013 14:39 WIB
Dirut RSCM: Pasien KJS Melonjak Sampai 60 Persen
Jakarta - Seperti rumah sakit lain, jumlah pasien di RSCM juga melonjak 30 hingga 60 persen setelah adanya Kartu Jakarta Sehat (KJS). RSCM siap mentransfer pengalaman dan ilmu kepada tim medis di puskesmas untuk menangani pasien KJS.

"30-60 Persen meningkat," kata Dirut RSCM dr. Ch Soejono, di FKUI, Jakarta, Rabu (27/2/2013).

Soejono mengatakan pasien di rumah sakit yang dipimpinnya sudah cukup banyak sebelum diterapkannya KJS. Namun, jumlah pasien terus meroket setelah ada KJS.

"Apalagi dengan adanya KJS, akses pasien terhadap kesehatan menjadi lebih bagus kan sehingga dengan jumlah pasien bertambah. Padahal gedung segitu-gitu juga," kata Soejono.

Menurut dia, seharusnya ada batasan jumlah pasien. "Kalau tempat tidur ditaro di situ, dokternya mau lewat mana? Alatnya mau ditaro di mana? Nggak ada tempat buat kami bekerja. Jadi memang harus ada batasan jumlah. Tertentu yang tidak dilampaui supaya bisa melayani dengan kualitas yang seharusnya karena kita tidak mungkin menolak pasien," kata dia.

Soejono berpendapat diperlukan edukasi masyarakat. RSCM akan memberikan pendampingan kepada dokter di puskesmas agar bisa menangani pasien.

"Misalnya puskesmas Koja, mereka bisa konsultasi langsung kepada dokter spesialis. Jadi mereka bisa menahan. Di RSUD sendiri, bisa lakukan hal yang sama. Misal bayi prematur tidak bisa ditangani sembarangan. Ini ada tim yang khusus tangani kasus ini. Kita latih mereka dan bentuk tim dan menganjurkan kepada RSUD supaya tim ini tidak dipindah biar bisa tangani bayi itu sebagaimana mestinya," papar Soejono.

Selain itu, kata dia, perlu proses penambanhan ilmu. "Biar dapat keterampilan baru sehingga transfer ilmu bisa meningkatkan kemampuan RSUD, sehingga arus pasien ke RS tidak membludak untuk yang tidak perlu. Kalau bisa ditangani di puskesmas maka ditangani di puskesmas," kata Soejono.

Ia mengatakan transfer pengalaman dan ilmu bisa dilakukan dalam jangka menengah.

"Kita latih dokter umum dan spesialis RSUD supaya bisa handle kasus ini. Kita tidak bisa tahan orang untuk berobat. Kalau kewalahan banget, ya, kita nggak tega," kata Soejono.



(aan/gah)


Berita Terkait