Panglima: 70% Keuntungan Yayasan Bukan dari Anggaran TNI
Senin, 04 Okt 2004 01:10 WIB
Jakarta -
Panglima TNI menjelaskan, 70 persen keuntungan bisnis militer seperti yayasan, bukan dari anggaran TNI, tapi dari kebutuhan kesejahteraan prajurit.DPR mengklaim 70 persen keuntungan yayasan bisa menutupi anggaran TNI dari pemerintah. Bisnis militer menurut UU TNI akan dihapus dalam 5 tahun secara bertahap."Saya harus menjelaskan agar tidak ada yang salah dalam hal ini. Kalau ada yang mengatakan yayasan telah mampu membiayai 70 persen anggaran TNI dari pemerintah. Itu tidak benar."Demikian tegas Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dalam jumpa pers usai mengikuti gladi bersih peringatan HUT ke-59 TNI pada 5 Oktober 2004 di Halim Perdana Kusuma Jakarta, Minggu (3/10/2004)."Artinya, dengan anggaran yang kita dapatkan setahun Rp 12 triliun, itu 30 persen dari anggaran TNI. Jadi bisnis TNI menghasilkan Rp 24 triliun per tahun. Kalau itu benar, bisnis apa yang bisa menghasilkan Rp 12 triliun per tahun? Kalau bisnis TNI Rp 12 triliun per tahun yang itu 70 persen anggaran TNI, jadi nggak ada orang yang mau keluar dari TNI," tukasnya."Kalau Rp 12 triliun per tahun merupakan keuntungan, bayangkan asetnya berapa. Yang benar adalah, 70 persen itu dari kebutuhan kesejahteraan prajurit yang selama ini tidak tertangani oleh anggaran TNI. Jumlahnya tidak sampai Rp 100 miliar dari seluruh angkatan yang ada. Karena anggaran dari negara tidak sampai Rp 1 miliar untuk kesejahteraan," lanjut Tarto.Menurut dia, tidak ada anggaran negara yang bisa memberikan kepada prajurit bila pensiun, dan dapat membeli rumah minimal 21 meter persegi. Kalau pensiun, prajurit dipersilakan dengan gaji yang didapat selama bekerja untuk mencari rumah sendiri."Padahal dengan gaji seperti itu, untuk kebutuhan sehari-hari tidak cukup. Nah, dengan bisnis yang ada seperti yayasan itu bisa membantu untuk memberikan uang muka atau cicilan," ujar Tarto.Jika ada anggota TNI yang gugur, dia pun mempertanyakan nasib keluarga yang ditinggalkan. Sebab negara tidak memberi fasilitas kepada keluarga anggota TNI yang gugur, begitu juga rumah."Maka dari bisnis ini kita berikan kepada mereka, juga kepada anak-anak yang ditinggal mati oleh bapaknya. Dari bisnis ini lah kita berikan bea siswa agar mereka bisa sekolah," tukas Tarto."Dengan nilai keuntungan 70 persen dari anggaran TNI, perusahaan apa saja yang ada di dunia yang bisa menghasilkan Rp 24 triliun per tahun atau Rp 12 triliun per tahun. Tidak ada itu," tandasnya.
(sss/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































