"Kalau parpol mau mereformasi hal itu saya optimistis, tapi kalau tidak akan menjadi sama saja," kata Titi dalam diskusi bertajuk 'Idealisme Parpol dalam Memilih Caleg Profesional' di ruang pers Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakpus, Jumat (22/2/2013).
Titi menjelaskan, parpol lebih mementingkan memperoleh suara terbanyak dengan mencalegkan orang-orang tertentu. "Shorcut suara terbanyak adalah popularitas dan uang," tuturnya.
Mestinya dengan sistem suara terbanyak pada Pemilu 2024, partai dan kadernya intens membangun basis konstituen. Uang dan popularitas kata Titi tak bisa jadi modal utama tanpa memenuhi syarat kompetensi sebagai calon anggota dewan.
"Calon dari partai mesti bisa diuji publik," ujarnya.
Sementara bagi pengamat politik LIPI Siti Zuhro, caleg yang diajukan haruslah amanah untuk memegang tugas sebagai wakil rakyat. "Tidak cukup hanya profesional," kata dia.
Baginya kompetisi merebut suara rakyat di Pemilu harus ditunjukan dengan kemampuan caleg yang diusung. "Sehingga yang muncul nanti di DPR bisa ngomong, betul-betul amanah merepresentasikan apa yang dibutuhkan masyarakat," imbuh Siti.
(fdn/lh)











































