Berbagai Alasan PPP Keluar dari Koalisi Kebangsaan
Jumat, 01 Okt 2004 12:53 WIB
Jakarta - Ada banyak alasan PPP akhirnya memilih keluar dari Koalisi Kebangsaan. Alasan yang mendasar yakni ingin terjadinya perubahan pimpinan DPR yang selama ini selalu dipegang Golkar. Alasan lainnya yang tak kalah kuat yaitu masalah agama.Demikian disampaikan seorang sumber PPP di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (1/10/2004).Sang sumber menjelaskan sedikitnya ada tiga alasan yang melatar belakangi keputusan menjelang pagi di Hotel Mulia, Kamis (30/9/2004) kemarin itu.Pertama, keinginan agar terjadi perubahan pimpinan DPR yang selama ini selalu dijabat Golkar. "Golkar sudah terlalu lama menjadi pimpinan DPR. Tidak hanya masa Akbar tapi juga sejak zaman Soeharto bahkan sejak DPR berdiri itu selalu Golkar terus. Makanya kita pengin PDIP agar ada pergantian," kata sumber itu.Kedua, pertimbangan Golkar akan meraih untung terbesar jika kembali memimpin DPR. Dikhawatirkan Golkar akan menguasai mayoritas pimpinan DPR dari pusat hingga daerah jika kembali menjadi Ketua DPR.Ketiga, PPP ingin membangun koalisi keumatan karena massa PPP tidak menginginkan bergabung dengan Golkar dan PDIP. "Masa PPP sebetulnya tidak pernah menginginkan kita bergabung dengan PDIP dan Golkar. Masa PPP lebih dekat dengan PKS, PBB, PAN, PKB, dll," kata sang sumber.Hal lain yang tak kalah krusial yakni masalah keagamaan. PPP keberatan dengan masalah agama para calon pimpinan DPR/MPR yang disodorkan Golkar. Setelah perdebatan panjang hingga rapat terpaksa berkahir menjelang pagi, PPP akhirnya memutuskan membangun koalisi sendiri dengan PKS, PBB, PAN, PKB, PD. Koalisi ini menyodorkan paket pimpinan DPR dan MPR yang teridiri dari Ketua DPR, Endin AJ Soefihara, Wakil Ketua Ali Masykur Musa (PKB), Ahmad Farhan Hamid (PAN) dan E Mangindaan (PD).Sedangkan MPR, Ketua MPR Irwan Prayitno (PKS), Wakil MPR Aksa Mahmud (DPD yang dekat PD), Yusuf Muhammad (PKB) dan AM Fatwa (PAN) .Paket yang disebutkan sumber itu sedikit berbeda dengan yang disampaikan fungsionaris DPP PPP Lukman Hakiem. Perbedaan itu yakni dari Wakil Ketua DPR dari PAN, Lukman menyebut Hatta Radjasa.
(iy/)











































