Ada kerusuhan di Gedung Rektor IAIN Walisongo Semarang. Ratusan mahasiswa membakar barang-barang dan memecahkan kaca pintu ruang rektor. Mereka meminta ada toleransi atas keterlambatan pembayaran registrasi.
Aksi diawali dengan orasi sekitar pukul 10.00 WIB, Senin (18/2/2013). Mereka tiba di depan gedung rektorat dan segera menerobos petugas keamanan. Ratusan mahasiswa itu menuju ruang rektor di lantai dua, namun diminta kembali oleh pihak humas karena rektor tidak berada di tempat.
"Kami hanya ingin toleransi waktu, registrasi 700 mahasiswa IAIN ditolak," kata koordinator aksi, Munji di kampus IAIN Semarang, Jl Walisongo Senin (18/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adu mulut dengan petugas keamanan tidak terelakkan. Mahasiswa dan petugas keamanan terlibat saling dorong. Sejumlah mahasiswa kemudian mengumpulkan poster-poster di depan kantor rektor dan membakarnya. Kursi-kursi di ruang tunggu pun dirusak. Meja kaca dipecahkan. Mereka mengancam akan melakukan aksi yang lebih anarki jika rektor tidak bisa ditemui.
Salah satu mahasiswi Fakultas Ushuluddin angkatan 2009, Dewi Nabila (22), mengatakan baru kali ini pihak kampus sama sekali tidak memberikan toleransi pembayaran. "Saya hanya telat satu hari dari batas akhir tanggal 13 Februari kemarin. Padahal pembayaran kami sudah diprogram kolektif, jadi yang tidak bisa registrasi di tempat saya satu kelas. Fakultas lain masih banyak," papar Nabila.
Sebelum membayar, mahasiswa diharuskan melakukan registrasi online. Tapi saat akan membayar, mereka ditolak. Mahasiswa menyayangkan minimnya tempat pembayaran registrasi.
"Kami masih ingin kuliah, makanya sekarang ini kami bingung," tandasnya.
"Bahkan saya hanya telat setengah jam di tanggal 13 kemarin," timpal mahasiswi lain, Naelun (22).
Humas IAIN Semarang, Sirojudin Munir mengatakan, tidak adanya toleransi untuk pembayaran bertujuan untuk menegakkan disiplin dalam pembayaran registerasi. "Sebelumnya ada kelonggaran, sekarang tidak, kenapa? Kami ingin menegakkan peraturan. Itu aturan regular, aturan standar," pungkas Sirojudin.
Lebih dari dua jam aksi anarki terjadi di depan ruang rektor. Beberapa kali api berkobar dan padam. Dua kursi tunggu dan dua meja kaca rusak parah. Saat ini, mahasiswa berada di luar gedung rektorat untuk menunggu audiensi yang dijanjikan oleh pihak kampus.
"Jika tidak ada hasil, kami akan menurunkan massa yang lebih banyak," teriak korlap aksi.
(/)










































