Warga NU Demo Tolak Hasyim Muzadi Kembali Pimpin NU

Warga NU Demo Tolak Hasyim Muzadi Kembali Pimpin NU

- detikNews
Kamis, 30 Sep 2004 17:02 WIB
Yogyakarta - Puluhan warga Nahdliyin Yogyakarta yang tergabung dalam Komite Bersama Warga Nahdlatul Ulama (NU) Penyelamat Khittah 1926 menggelar aksi demo menolak "kaum demoralis" (Hasyim Muzadi cs) kembali memimpin Nahdlatul Ulama (NU).Aksi digelar Kamis (30/9/2004) pukul 14.00 WIB bertempat di depan situs sejarah Kandang Menjangan sekitar 100 meter arah selatan Ponpes Al Munawwir Krapyak Sewon Bantul. Selain berorasi, di tempat itu mereka memasang sebuah bendera NU berukuran 4 x 10 meter yang diplesetkan menjadi Nahdlatoel Oeang.Koordinator aksi Ahmad Habib dalam orasinya mengatakan, gagalnya pasangan Mega-Hasyim untuk meraih suara dari warga NU menunjukkan bila jam'iyyah NU tidak bisa dimobiliasi dan dipolitisasi. Pada putaran kedua, Mega-Hasyim justru kalah telak di basis-basis NU di Jawa khususnya di Jawa Timur. "Bahkan dari 38 kabupaten di Jawa Timur hanya menang tipis di Kabupaten Blitar dan Situbondo saja," kata Habib.Habib juga mengecam KH Hasyim Muzadi beserta tim sukses dan pendukungnya yang langsung ngantor lagi di PBNU sehari setelah pilpres. Mereka beralasan ingin berkonsentrasi menyukseskan Muktamar NU ke-31, sembari mengajak semua komponen NU melupakan hasil pilpres."Ini sungguh suatu ironi dan sikap yang tidak bertanggung jawab, tidak punya malu sehingga menjadikan NU sebagai mesin cuci atas semua tindakan yang melukai warga NU," katanya.Selain itu mereka juga mendesak jajaran Syuriah PB NU sebagai pemangku otoritas keulamaan untuk tidak terlibat politisasi NU. Selanjutnya menyerukan agar menghentikan pembicaraan mengenai suksesi kepemimpinan NU dalam Muktamar ke-31 mendatang. Sebab hal itu hanya akan menjadikan muktamar sebagai ajang pertarungan politik para elit NU serta ajang pelampiasan setelah gagalnyaaksi dukung-mendukung di pilpres."Ini bisa berbahaya, karena masih dalam suasana euforia pragmatisme pilpres sehingga nuansa euforiatersebut bakal muncul pula dalam suksesi di NU mendatang. Bukan tidak mungkin money politics pun bisa terjadi pula seperti di pilpres lalu," kata Habib. (nrl/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini