Pengamat: Demi Perbaikan SBY Harus Berani Ambil Kebijakan

Pengamat: Demi Perbaikan SBY Harus Berani Ambil Kebijakan

- detikNews
Kamis, 30 Sep 2004 15:44 WIB
Jakarta - Reformasi di masa yang akan datang tergantung pada kemampuan SBY dalam mengambil kebijakan. Untuk itu, paradigma politik pemerintah harus dirubah.Hal ini mengemuka dalam diskusi di The Habibie Center Jl Kemang Selatan Jakarta Selatan, Kamis (30/9/2004)."Langkah-langkah kelanjutan reformasi akan sangat tergantung pada leadership. Perangkat pendukung pemerintah tidak perlu diganti, tinggal bagaimana sang pemimpin berani mengambil langkah kebijakan ke arah perbaikan," ujar pengamat politik Andi Mallarangeng.Andi optimis, SBY mampu membawa perubahan bagi negeri ini. "Mungkin ada sedikit kerikil, tapi tidak akan ada alasan bagi peran SBY untuk tidak efektif," tegasnya.Sementara itu, pengamat Kusnanto Anggoro beranggapan SBY kelak harus berani mengambil keputusan demi perbaikan. "Masalahnya tinggal apakah SBY berani mengambil kebijakan untuk mengatasi krisis atau tidak. Kemungkinan sampai 2009 tidak akan ada impeachment. Yang perlu dicemaskan adalah kemungkinan situasi dan kondisi reformasi sampai 2009 akan tetap sama atau tidak banyak berubah," Kusnanto berujar.Kendati demikian, pengamat politik Indria Samego tak sependapat. Menurutnya tidak akan ada kedewasaan politik ke depan. "Situasi politik akan dipengaruhi kekuatan tarik menarik antara eksekutif dan legislatif. Kita tidak bisa berharap banyak pemerintah baru untuk membuat solusi perubahan," kata Indria. "Kalau paradigma politik pemerintah berubah, baru kita boleh berharap Indonesia akan berubah. Selama ini paradigma tersebut masih dipengaruhi kultur dan politik masa lalu. Perlu ada kekuatan ke empat baik dari media massa ataupun masyarakat untuk memegang peran mengawasi jalannya perubahan," jelasnya. Menyoal rencana Golkar yang akan menjadi oposisi, Andi Mallarangeng melihat ini sebagai suatu hal yang aneh. "Lucu sekali kalau Golkar menjadi oposisi, karena dari hasil polling LP3ES 76 persen pendukung Golkar ternyata mendukung SBY. Bila kemudian elit-elit koalisi ini menjadi oposisi, berarti mereka tidak peka terhadap aspirasi pendukungnya. Lebih baik mereka mengundurkan diri saja," tegas Andi. (dit/)


Berita Terkait