Warga Tionghoa mulai berdatangan ke kelenteng sekitar pukul 22.00 WITA, Sabtu (9/2/2013). Sedikit berbeda dengan tahun lalu, puluhan mobil biasa terlihat diparkir berjejer di Jl Yos Sudarso serta Jl Pangeran Suriyansyah.
"Tapi memang sekarang ini, tidak seramai tahun lalu. Tahun kemarin, kita beramai-ramai datang ke sini (Klenteng Thian Gie Kiong)," kata Susanto kepada detikcom, di Klenteng Thian Gie Kiong, Minggu (10/2/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin saja lagi banyak yang bepergian ke luar kota atau memilih merayakannya di rumah saja. Jadi memang tahun ini, terlihat lebih sederhana," ujarnya.
"Yang terpenting makna dari Imlek sendiri bagi shio Ular Air, penuh pengharapan untuk perubahan yang lebih baik di tahun baru," sebut Gunawan, warga Tionghoa lainnya.
Meski begitu, warga Tionghoa yang sudah berada di Kelenteng, melakukan rangkaian kegiatan Sembahnyang menjelang pergantian tahun. Tidak hanya itu, parade Barongsai pun ikut mewarnai Imlek disaksikan warga non Tionghoa yang bermukim di sekitar Klenteng.
Warga masyarakat membaur ikut menyaksikan Barongsai yang digelar di halaman Klenteng. Tidak sedikit dari warga masyarakat yang menantikan pembagian angpau yang biasa dilakukan saat perayaan Imlek.
"Siapa tahu dapat Angpau. Biasanya kan ada angpau setelah jam 12 malam," kata Hamdi.
Sekitar pukul 00.00 WITA tepat pergantian tahun 2564, warga Tionghoa melakukan puncak kegiatan Imlek di dalam Kelenteng. Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arief Prapto Santoso beserta personel Polresta Samarinda, Polsekta Samarinda Ilir serta Polsek Kawasan Pelabuhan Samarinda, berada di Klenteng untuk mengamankan berlangsungnya kegiatan Imlek tersebut.
"Ya, Imlek tahun ini tidak seramai tahun lalu. Sekarang memang terlihat sederhana," kata seorang anggota Polsekta Samarinda Ilir.
(rvk/rvk)











































