Pengamat politik dari UGM, Arie Sudjito, menilai waktu beberapa bulan yang tersisa menjelang Pemilu 2014 akan dimanfaatkan untuk saling menjatuhkan citra parpol lain. Semua tokoh memegang 'kartu truf' masing-masing dan akan mengeluarkannya pada waktu yang tepat.
"Makin banyak kasus hukum karena pada pegang kartu, saling lapor, saling nunggu dan saling lempar," kata Arie saat berbincang dengan detikcom, Rabu (6/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Antara mercon dan bom tidak bisa dibedakan, yang penting bisa bikin khawatir. Ada survei kalut, ada KPK nangkap orang kalut," terangnya.
Pengajar Ilmu Politik di FISIP UGM ini memprediksi, situasi politik Tanah Air bakal terus berubah. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pekan lalu yang menempatkan Golkar sebagai partai terfavorit, tak bisa dijadikan patokan untuk Pemilu 2014.
"Tiga bulan menjelang Pemilu aja masih bisa berubah. Bisa saja, tiba-tiba ketuanya ada masalah, orang bergeser. Politik di Indonesia itu penuh ketidakpastian," terangnya.
Lebih lanjut, Arie mengimbau, agar partai politik saat ini fokus untuk pembenahan internal. Jangan sibuk dengan perolehan angka dalam survei dan menyerang partai lain.
"Kalau partai mau komitmen, dia harus menunjukkan kepada publik komitmen dan kejujuran. Angka itu akan mengikuti. Jangan sederhanakan politik dengan angka tapi nilai," tegasnya.
(mad/nrl)











































